anri Abeng
lahir di pelosok desa Pulau Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 7 Maret 1942, dari sebuah keluarga miskin.
Ia belajar dengan keras, sambil juga mencari uang untuk menopang kebutuhan sehari-harinya.
Antara lain dengan menstensil catatan-catatan sekolah dan kuliah, memberi les, dan sebagainya.
Sikap tidak mau menyerahnya terhadap keadaan terbukti membuahkan hasil. Ia terpilih sebagai
peserta program pertukaran pelajar American Field Service. Di sana pula ia menemukan orangtua
asuh, yakni keluarga Gibson. Kemudian ia meneruskan kuliah di Universitas Hasanudin sambil bekerja
paruh waktu di sebuah perusahaan eksportir dan mengajar bahasa Inggris di sebuah SMA. Ketika jadi
mahasiswa ini pulalah Tanri memperoleh beasiswa untuk mengambil Master of Business Administration
dari State University, New York.
Bintangnya terang selulus MBA, ketika ia bergabung dengan Union Carbide. Dimulai dari management trainee
di Amerika Serikat, Tanri dalam waktu pendek dan usia 29 tahun sudah menduduki jabatan direktur keuangan
dan Corporate Secretary di perusahaan multinasional tersebut.
Lima tahun kemudian ia dialihtugaskan ke Singapura dan bertanggungjawab atas pemasaran di Eropa, Asia
dan Afrika. Tahun 1979 Tanri pindah, menjadi Chief Executive Officer di Multi Bintang dan berhasil mengangkat
perusahaan multinasional ini menjadi bintang pasar minuman di Indonesia. Tantangan di Multi Bintang dianggap
teratasi, tahun 1991 Tanri mencari tantangan baru dengan menjadi CEO di Bakrie Brothers, namun tetap
diminta menjadi Non executive chairman di Multi Bintang. Di Bakrie ia juga melakukan turn around dengan melakukan
restrukturisasi, profitisasi, dan akhirnya menjadi perusahaan publik. Sementara itu,
ia juga memegang banyak posisi senior non eksekutif di banyak organisasi kepemerintahan dan LSM
seperti Komisi Pendidikan Nasional, Badan Promosi Pariwisata, Dana Mitra Lingkungan, Asosiasi Indonesia Imggris,
Institut Asia-Australia, Yayasan Mitra Mandiri, dan sebagainya. Terakhir, ia dipercaya menjadi Menteri
Negara Pendayagunaan BUMN dari 25 Mei sampai dengan 13 Oktober 1999. Kini ia lebih banyak mencurahkan
waktunya untuk mengembangkan pemikiran dan pendidikan manajemen, termasuk penulisan buku manajemen.