BERSPEKULALSI TENTANG DAMPAK EKONOMI PERANG IRAK@

Oleh : J. Soedradjad Djiwandono
Gurubesar tetap Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia


Jawaban standar yang diberikan oleh pemerintah AS setiap ditanya mengenai perkembangan perang Irak adalah bahwa hasil akhirnya sudah pasti yaitu tumbangnya Presiden Saddam Hussein dan pendukungnya, digantikan dengan pemerintahan yang demokratis. Susahnya hasil akhir tidak menentukan segalanya, dan bagi yang lain proses pencapaian sasaran itu menentukan hasil akhir. Selain itu the devil is in its detail, kata orang.

Kalau kita mengikuti argumen kedua nampaknya gambar mengenai perang Irak tidak sejelas yang dilukiskan pemerintah AS. Setelah perang berjalan hampir dua minggu  berbagai hal yang mengurangi kepastian hasil akhir tadi justru yang semakin menonjol. Ternyata perang ini tidak dapat selesai cepat seperti yang  diharapkan sebelumnya, ternyata tentara gabungan tidak banyak disambut dengan lambaian tangan penduduk Irak, apalagi rangkaian bunga. Gambaran pasukan sekutu yang disambut meriah penduduk setempat waktu pembebasan Eropa dari kekuasaan Hitler, yang nampaknya dibayangkan perancang penyerbuan Irak ternyata tetap jadi harapan belaka.

Ternyata perlawanan tentara dan milisi serta pengawal Presiden Saddam Hussein lebih gencar dari yang sebelumnya dibayangkan. Ternyata menyerbu Irak bukan  seperti yang digambarkan perancangnya di Pentagon; seperti cakewalk, singkat dan seperti piknik saja. Sementara itu dunia masih menunggu kapan pasukan AS dan Inggris menemukan senjata pemusnah masa (WMD) serta menanyakan apakah tentara Irak telah menembakkan senjata bio kimianya?

Susahnya kebanyakan perkiraan dan proyeksi ekonomi yang disusun sebelum perang Irak dimulai cenderung mendasarkan atas asumsi singkat dan mulusnya penyerangan Irak sebagai basis proyeksinya. Sekarang meskipun para perancangnya masih menekankan bahwa semua sesuai rencana, semakin banyak yang percaya bahwa perang ini tidak akan singkat. Artinya, biayanya langsung maupun tidak langsung, termasuk kerusakan kolateral akan jauh lebih besar dari perkiraan semula. Sasaran yang dicapai juga mungkin  lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.

Memang rencana yang sesungguhnya tidak pernah secara jelas diungkapkan secara umum; jalannya perang fleksibel, sasarannya berubah-ubah. Kalau digunakan ukuran sebelumnya Perang Teluk I tahun 1990-92 dulu berlangsung enam minggu. Jadi kalau Perang Teluk II ini diharapkan jauh lebih singkat dari yang pertama ya mustinya hampir atau malah sudah selesai.

Sebagai implikasinya perkiraan ekonomi harus disesuaikan, pada umumnya ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya. Dalam pada itu posisi AS di dalam perekonomian tidak berubah dalam arti bahwa perkembangan ekonomi dunia banyak ditentukan oleh perkembangan ekonomi negara adikuasa ini. Suka tidak suka ekonomi dunia memang masih menempatkan AS sebagai lokomotifnya. Kalau ekonomi AS loyo yang lain ikut, dan sebaliknya.

Menjelang perang Irak dilancarkan analisis ekonomi pasar cenderung menunjukkan bahwa yang paling menentukan kegiatan usaha  adalah adanya kepastian. Karena itu pada waktu terjadi perdebatan yang berkepenjangan di Dewan Keamanan mengenai  akan digunakan sarana perang atau diplomamsi, perkembangan pasar cenderung bersikap menunggu, lesu dan tidak bergairah. Waktu penyerangan Irak dilancarkan  pasar menyambut perang ini dengan bergairah, indeks harga saham di Wall Street meningkat tajam sampai lebih dari dua setengah persen. Argumennya, dengan dimulainya perang ketidak pastian itu hilang dan pasar menyambut gembira.

Tetapi nampaknya sambutan positif ini karena kecenderungan  kepercayaan analis pasar kepada gambaran yang dilukis oleh perancang perang, bahwa perang ini akan singkat dan akan diikuti dengan pemulihan yang cepat. Kebanyakan pelaku pasar percaya pada gambaran tersebut, termasuk bahwa untuk jangka menengah dan panjang perekonomian AS akan  begairah  kembali dan menjadi lokomotif bagi pertumbuhan perekonomian negara-negara lain. Terus terang sebagai ekonom yang tidak banyak menekuni teknik penyusunan perkiraan dan proyeksi pasar modal secara rinci, saya agak heran dengan reaksi yang sangat positif dari pasar waktu itu.

Nah, setelah lebih dari satu minggu perang berjalan dan mulai nampak tanda-tanda bahwa jalannya perang tidak singkat dan mulus seperti semula diperkirakan, maka segera pasar berreaksi negatif. Hal ini yang kemudian menjadi pola umum reaksi pasar. Sekarang yang nampak adalah bagaimana perekonomian AS akan menghadapi beban prang yang menambah besar deficit anggarannya maupun transaksi berjalan pada neraca pembayarannya serta implikasi negatifnya. 

Reaksi ini nampak dari dollar AS (USD) yang cenderung melemah terhadap berbagai mata uang, terutama euro, bahkan yen. Dalam situasi baru ini perkiraan terhadap prospek ekonomi AS menjadi sangat tergantung terhadap keberhasilan perang Irak. Keberhasilan perang akan menopang program ekonomi pemerintahan Presiden George W.Bush yang menyangkut rencana pemotongan pajak dan pebiayaan perang untuk tahun depan sekitar USD 75 milyar. Kalau perang Irak benar berkepanjangan dan tidak memberikan hasil seperti dijanjikan oleh pemerintah AS program ekonomi tersebut akan berantakan. Kalau ini yang terjadi nampaknya sejarah dapat berulang dengan Presiden Bush mengikuti nasib ayahnya tahun 1993 dalam kehidupan politiknya.

Koreksi yang harus dilakukan terhadap perkiraan ke depan adalah bahwa ekonomi AS tidak akan cepat pulih dalam paruh kedua tahun ini. Dengan lain perkataan dalam tahun 2003 AS belum dapat kembali menjadi lokomotif ekonomi negara-negara lain.

Kedudukan ini belum dapat digantikan oleh perekonomian lain. Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE) sekarang merupakan kawasan ekonomi yang besarnya mendekati ekonomi AS (UE merupakan kawasan dengan penduduk 450 juta dan GDP USD 9,6 milyar disbanding AS 280 penduduk dengan GDP 10,5 trilyun). Akan tetapi pertumbuhan ekonomi kebanyakan negara-negara UE juga tidak akan meyakinkan. Ekonomi Jepang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Dengan perang Irak yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya ekonomi Jepang juga akan lebih tertekan.

Sebagaimana yang terjadi sebelum perang Irak ekonomi yang cukup besar yang menunjukkan pertumbuhan yang tinggi hanyalah RRC saja. Salah satu unsure positifnya adalah bahwa meskipun perekonomian ini semakin terbuka semenjak masuk WTO dan meskipun akhir-akhir ini lebih banyak menjadi pesaing bagi negara-negara Asia lain termasuk Indonesia baik dalam kegiatan ekspornya maupun dalam menarik modal asing, sumber pertumbuhan ekonomi RRC masih lebih banyak berasal dari dalam negerinya sendiri.  Tentu saja dengan mundurnya jangka waktu pemulihan pertumbuhan ekonomi AS dan Eropa perekonomian RRC akan terpengaruh juga. Akan tetapi sebagai sumber permintaan terhadap ekspor negara-negara Asean, termasuk Indonesia negara ini tetap akan kuat. Karena itu sebagian dari melemahnya ekonomi AS dan Eropa mungkin dapat dikompensir dengan ekspor Indonesia ke RRC.

Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia nampaknya yang dihadapi bukan hanya propspek Perang Irak yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Akan tetapi perkembangan lain, termasuk terorisme dan misteri penyakit pnemonia yang dikenal sebagai Sars (severe acute respiratory syndrome) akan mempunyai dampak negatif pada perekonomian Indonesia.

Baik keamanan yang belum pulih karena ancaman terorisme yang telah berkembang beberapa waktu, terutama semenjak bom Bali, ditambah kekhawatiran dari reaksi masyarakat terhadap  perang Irak serta wabah Sars, semuanya akan berpengaruh pada kunjungan wisata serta kegiatan ekonomi yang terkait. Pemerintah sendiri telah menghentikan pengiriman TKW/TKI dan dengan perang Irak yang berkepanjangan hal ini jelas akan belanjut. Sebaliknya turunnya kunjungan wisata, bahkan dari Singapura ke Batam dan Bintan karena perang dan Sars jelas akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. 

Dalam kaitan ini BNP Paribas Peregrine telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia untuk tahun 2003 antara 0,4 sampai 1,5 persen sebagai dampak dari Sars yang mempengaruhi turisme, perdagangan, perusahaan penerbangan,hotel,rumah makan, usaha retail dan property. Semakin lama perang Irak, dan semakin lama epidemi ini berlangsung akan semakin besar pula dampak negatifnya terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia sebagai negara pengekspor migas peningkatan harga migas yang terjadi karena Perang Irak memang akan membantu anggaran pemerintah, terutama dalam keadaan setelah pengurangan subsidi penggunaan migas dalam negeri. Akan tetapi hal ini berbarengan dengan lemahnya ekonomi AS dan perekonomian negara-negara lain sebagai tujuan ekspor maupun asal investasi asing yang tidak dapat diharapkan terlalu banyak tahun ini. 

Di samping perkembangan yang mempunyai dampak negatif terhadap prospek ekonomi Indonesia ini ada juga perkembangan yang pantas disyukuri. Persetujuan Dewan Direktur IMF terhadap pinjaman sebesar USD 469 akhir Maret ini selain memperkokoh cadangan devisa yang dikuasai BI, juga menunjukkan dukungan dari lembaga multilateral ini terhadap program restrukturisasi ekonomi yang dilaksanakan pemerintah. Ini tentu memberikan nilai positif terhadap kepercayaan pasar yang sebenarnya nampak dari relatif stabilnya  nilai tukar rupiah. Perkembangan tersebut ditambah dengan laju inflasi yang terkendali dan penurunan suku bunga tentu membawa pengaruh positif pada perkembangan ekonomi dalam negeri yang seperti  pada kebanyakan negara-negara Asia lain pasca krisis, lebih merupakan sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor perdagangan luar negeri. Ini harapan untuk pertahanan ekonomi menunggu dorongan yang lebih besar dari perbaikan ekonomi dunia yang mungkin baru terjadi kemudian.


@ Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi, UI dan Senior Visiting Fellow, IDSS, Nanyang Technical University.