|
Business News, tanggal 31 Desember 1997
CATATAN AKHIR TAHUN
|
![]() |
|
Belum pernah Indonesia di masa Orde Baru mengalami krisis ekonomi yang
begitu dahsyat seperti terjadi di semester kedua tahun 1997 ini. Anehnya,
dampak pada kehidupan sosial masih belum terlalu terasa. Krisis mata uang
yang menimpa ekonomi kita ini juga tidak, atau kurang, disebabkan oleh
kelemahan-kelemahan ekonomi atau kebijakan pemerintah secara langsung.
Pada permulaannya, kita kena imbas dan krisis di Bangkok.
Krisis yang melanda Asia Tenggara, bahkan sampal menyentuh Korea Selatan,
dipicu oleh larinya modal pinjaman dan modal portfolio (yang paling ganas
adalah "hedge funds") yang datang dan luar. Modal ini, berbondong-bondong
masuk Asia Tenggara dan Timur sejak pertengahan dasawarsa delapanpuluhan.
Negara-negara Asia ini menarik sebagai emerging economies yang dinamis, yang
laju pertumbuhannya tinggi. Maka prospek keuntungan juga bagus.
Karena besarnya pemasukan modal dan luar ini maka defisit neraca berjalan
membengkak, di Thailand sampai 7% dan PDB. Di Indonesia hanya separohnya.
Sebelumnya, angka 2% PDB merupakan patokan batas aman bagi defisit neraca
berjalan itu.
Maka pemodal (non-FDI) dari luar negeri sebetulnya ikut bertanggungjawab
atas boom dan bust yang terjadi. Tetapi kepanikan mereka lalu dukuti oleh
kalangan-kalangan dalam negeri.
Kurs mata uang jatuh. Diukur dan mata uang nasional maka jatuhnya sampai
dua kali. Tetapi jatuhnya rupiah menjadi yang terdalam. Dari Rp 2.450 pada
Juni 1997 menjadi lebih dan Rp 6.000 menjelang akhir tahun ini. Di Thailand
baht mulai 26 per dollar, akan tetapi sekarang dibawah 50. Ringgit Malaysia
tidak kehilangan nilai terlalu banyak. Begitu pula peso Filipina.
Maka yang harus dicari sebabnya adalah jatuhnya nilai Rupiah yang terbesar
karena keadaan ekonomi umum tidak separah di Thailand. Keterangan yang paling masuk akal adalah krisis kepercayaan mulai melanda Indonesia. Krisis in mempunyai dimensi politik, artinya menyangkut kepercayaan kepada keadaan serta hari depan politik, terutama setelah Presiden perlu istirahat yang tidak ditegaskan oleh komunike dokter apa sakitnya. Kekurangan transparansi yang meliputi kepemerintahan Orde Baru ikut memperparah krisis kepercayaan.
Apa prospek tahun 1998 ? Jelek! Dengan kurs Rupiah di atas Rp 5.000 per
dollar maka banyak sekali perusahaan akan mengalami krisis keuangan dan
bankrut. Banyak proyek sudah dan masih akan dihentikan karena modalnya
kurang dan prospek pasarnya menjadi suram. Pengangguran akan bertambah
dengan ratusan ribu. Ini akan terjadi juga di Thailand, dan juga terjadi di
Meksiko di tahun 1995, tahun pertama krisis yang serupa.
Krisis ekonomi Indonesia bahkan dibuat lebih parah lagi oleh dampak
kekeringan panjang, debu dan kebakaran hutan yang merusak beberapa tanaman
komoditi, seperti tembakau, kelapa sawit dan coklat. Panen padi pun menurun
4% sehingga memerlukan impor.
Pengalaman di Meksiko menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi menurun sampai
negatip di tahun pertama dari masa pembenahan, dan ketinggian 3,5% setahun.
Artinya, jatuhnya sekitar 5%.
Mudah-mudahan di Indonesia jatuhnya tidak sedalam itu. Tetapi kalau
dihitung dari ketinggian laju pertumbuhan 7,5% setahun maka ada kemungkinan
laju pertumbuhan ekonomi tahun 1998 turun sampai 2,5%. Di Thailand laju
pertumbuhan ekonomi bahkan diperkirakan menjadi minus selama tahun pertama.
Ada gelagat di Indonesia pemerintah tidak akan bersedia mengadakan
kontraksi moneter dan ekonomi seperti dituntut oleh IMF, sebagai "obat yang
orthodoks". Akan tetapi, laju pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun
1997 sudah menurun menjadi 4% setahun. Kiranya di semester pertama tahun
1998 akan turun lebih besar lagi. Harapannya, semester kedua sudah ada
permulaan kebangkitan kembali.
Akan tetapi, kebangkitan kembali demikian hanya bisa terjadi kalau,
pertama, kepercayaan (pada mata uang dan pada keadaan politik) pulih, dan
kedua, arus modal dan pinjaman dan luar negeri mulai mengalir lagi. Yang
juga tergantung dan faktor kepercayaan.
Maka yang menjadi kunci adalah pulihnya faktor kepercayaan ini. Ini tidak
bisa dipaksa, tidak bisa diatur dengan keputusan pemerintah (saja). KULTUR
politik dan menjalankan pemerintahan harus berubah. Transparansi harus jauh
lebih besar. Tidak ada yang boleh kebal terhadap pelanggaran ekonomi dan
hukum. Sampai sekarang pelanggaran demikian selalu didiamkan. Orde Baru
terlalu permisif atau toleran terhadap pelanggaran ekonomi, moral dan hukum,
dan terlalu keras terhadap yang dipandang penyimpangan politik, yang sering
dan dini disebut "makar".
Dalam krisis ekonomi ini timbul suatu "tarik tambang" antara kekuatan
"pasar" dan kekuatan/kekuasaan politik. Di jangka pendek kekuasaan politik
sering bisa menang. Di jangka panjang "pasar" sangat mungkin akan menang. Di
jangka menengah, wallahu-alam.
Jakarta, 30 Desember 1997
|
|