Business News, tanggal 26 Desember 1997

MEMBANDINGKAN DENGAN KRISIS DI MEKSIKO

[ Index ]


Krisis mata uang dan krisis ekonomi di Indonesia sering dibandingkan dengan krisis yang sama yang terjadi di Meksiko mulai Desember 1994. Krisis ini berjalan sekitar dua tahun dan di tahun 1997 ekonomi Meksiko sudah sehat kembali, walaupun laju pertumbuhan ekonomi tidak sampai melebihi 5% setahun dan tingkat inflasi masih double digit.

Krisis di Meksiko dan krisis di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, banyak kesamaannya, akan tetapi juga cukup banyak perbedaannya. Maka itu "happy endingnya" (setelah dua tahun) tidak perlu sama. ini tidak memastikan happy ending untuk Indonesia akan memerlukan waktu lebih lama. Kita tidak tahu. Seperti di Meksiko, pada tahun pertama krisis maka besar sekali ketidakpastian dan spekulasi yang sering ganas menguasa keadaan serta perkembangan.

Kesamaan antara krisis Meksiko dan krisis Indonesia (dan Thailand) adalah besarnya depresiasi atau devaluasi mata uang. Mula-mula depresiasi ini masih dikendalikan oleh bank sentral dengan melebarkan spread atau band intervensi, akan tetapi, seperti di Thailand, ini hanya menghabiskan cadangan bank sentral dan akhirnya gerakan kurs dilepaskan, yang menyebabkan free fall kurs mata uang. Pasar mata uang dan bursa efek dikuasai oleh panik, dan semua fihak "lari ke pintu keluar".

Meksiko, Thailand dan Indonesia minta pertolongan IMF. Yang paling dini panggil IMF adalah Indonesia. Bantuan internasional datang dalam jumlah yang cukup besar. Amerika Serikat dan Kanada langsung membantu Meksiko. Jepang bersedia membantu Asia Tenggara, mengikuti IMF, Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia. Begitu pula sejumlah negara lain.

Di Asia Tenggara setelah paket IMF/Bank Dunia berlaku dua bulan, BELUM terasa dampak positipnya. Krisis kepercayaan dan krisis di bidang per-bankan masih merajalela. Di waktu pertama setelah intervensi IMF di Meksiko, keadaannya juga kira-kira sama karena dalam jangka pendek belum tampak pelaksanaan efektif reforma yang dituntut dunia internasional.

Paket policy pemerintah Meksiko yang tegas baru muncul bulan Maret 1995. Paket ini Kajima, sesuai orthodoxy IMF. Di bidang fiskal, di satu fihak kenaikan penerimaan pemerintah diusahakan lewat penyesuaian harga, tarip dan pajak, di lain fihak pengeluaran banyak dipotong. Harga BBM dinaikkan sekitar 50% walauupun tidak sekaligus, dan pajak penjualan (VAT) dinaikkan dari 10% menjadi 15% (dengan pengecualian untuk bahan keperluan hidup yang pokok). Di bidang moneter dilakukan politik moneter yang ketat dan pembatasan ekspansi kredit. Kurs mata uang dibiarkan mengambang bebas.

Sektor perbankan dibenahi. Di satu fihak, para depositor dijamin penuh (setelah banknya diperiksa dan dinyatakan sehat), di lain fihak direksi dan komisaris bank yang bersalah diseret ke pengadilan. Tidak ada kalangan yang tahan kekebalannya. Akhirnya, juga dilancarkan program-program untuk memberi employment kepada ratusan ribu pekerja yang kehilangan nafkahnya. Kalangan masyarakat papan bawah sebisa-bisanya dijamin agar beberapa keperluan hidupnya terjamin supplynya pada harga yang terjangkau.

Yang penting bagi kita untuk disadari adalah dampak kebijakan yang kontraktip mi. PDB turun di tahun 1995 (untuk tahun 1994 mash sekitar 3,5% dengan inflasi yang rendah dan kurs mata uang peso yang stabil). Untuk seluruh tahun 1995 laju pertumbuhan negatip ini (diperkirakan oleh Rencana) mencapai minus 2%. Untuk triwulan pertama 1995 pertumbuhan ini minus 1%, triwulan kedua minus 4%, triwulan ketiga minus 2,3% dan triwulan keempat minus 0,6%. Untuk tahun 1996 pertumbuhan sudah menjadi positip.

Maka "pelajaran" utama dan krisis Meksiko adalah kontraksi ekonomi, sebagian karena mengikuti resep IMF, sebagian oleh karena modal masih lari dan sentimen pasar masih serba negatip.

Krisis di Indonesia mungkin tidak separah di Meksiko. Krisis keuangan di Indonesia hanya menyangkut sektor swasta; di Meksiko baik sektor swasta maupun pemerintah. Defisit neraca berjalan di Indonesia jauh lebih kecil.

Di Meksiko sektor yang akhirnya mengangkat kembali ekonomi adalah ekspor. Ekspor, didorong oleh devaluasi dan pasar NAFTA, bisa meningkat dua kali dalam satu tahun. Untuk Asia Tenggara prospeknya lebih suram, karena ekonomi Jepang lesu sekali dan Amerika tidak akan bersedia menampung kenaikan ekspor sampai dua kali dan Asia Tenggara. Mereka akan pasang palang pintu.

Perbedaan besar antara Meksiko dan Indonesia juga terletak di bidang politik. Di Meksiko pada akhir tahun 1 994 ada penggantian presiden. Bukan karena krisis politik melainkan karena keharusan konstitusional. Di Indonesia dewasa ini krisis moneter cenderung menjadi krisis (kepercayaan) politik. Kekurangan transparency di Meksiko juga terdapat di tahun 1994, akan tetapi di tahun 1995 maka transparency ini sangat ditingkatkan. Akhirnya, di tahun 1996 Meksiko mampu untuk melonggarkan kebijakan fiskal yang kontraktip. (HABIS)