|
Business News, tanggal 10 Desember 1997
APAKAH KRISIS MONETER CENDERUNG MENJADI KRISIS POLITIK?
|
![]() |
|
Rupiah menembus plafon Rp 4000 per dollar dan orang menjadi tambah resah, sampai berapa lagi nilainya
akan turun? Di pasar uang sudah beredar perkiraan bahwa akan merembet ke Rp 5000, sebelum mungkin turun lagi.
Faktor empiris di pasar uang yang bisa dilihat sebagai sebab adalah masih adanya utang swasta besar yang
perlu diservice akhir tahun, kalau tidak bisa di roll-over. Tetapi, contoh mungkinnya roll-over (terakhir
grup Sudwikatmono dan Sukamdani) mulai bertambah. Yang akan ikut pergi dengan menteri keuangan ke Amerika,
katanya, adalah pengusaha-pengusaha besar yang masih memerlukan penjadwalan atau roll-over dalam waktu dekat.
Di surat kabar hari Selasa pagi juga diberitakan bahwa gejala melemahnya kurs mata uang merupakan gejala
regional. Harian Ekonomi Neraca melaporkan (halaman pertama di bawah judul "Rupiah Merosot 170 Poin...")
bahwa ringgit melemah dari 3.75 menjadi 3.79 pada penutupan hari Jum'at. Pada akhir minggu itu peso,
baht dan won pun merosot. Tetapi pada halaman 7 dari surat kabar yang sama (judul "Malaysia Hemat
Pengeluaran dan Pasok Dana Penunjang") disebut ringgit permulaan minggu ini menguat ke 3.648/dollar
dari 3.780 hari Jum'at yang lalu. Jadi di Malaysia ada pengaruh dari tekad baru pemerintah.
Di Jakarta permulaan minggu ini pasti ada pengaruh berita bahwa Presiden harus istirahat total sepuluh
hari. Lalu ditambah kabar kebakaran menara Bank Indonesia yang menghuni sentral komputer sehingga tidak
ada clearing. Kebakaran ini dalam keadaan normal tidak akan mengganggu kemantapan kurs. Tetapi
istirahatnya Presiden mengundang macam-macam spekulasi. Orang ingat lagi bahwa tiga puluh tahun yang
lalu kabar gangguan kesehatan Bung Karno ikut memicu perkembangan-perkembangan selanjutnya yang berakhir
dengan jatuhnya Presiden RI pertama.
Maka yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah terus melemahnya rupiah mempunyai sebab
ekonomi-moneter, atau sudah berkaitan dengan situasi politik? Kalau luar negeri menafsirkan istirahatnya
Presiden secara lebih serius dan mulai mempertanyakan langgengnya pemerintahan dalam waktu dekat dan
menengah, maka tidak akan mengherankan kalau kalangan pasar uang luar negeri itu tidak mau menyentuh
rupiah sebelum ada awan terang di cuaca politik dalam negeri Indonesia.
Di Malaysia sebetulnya juga ada masalah politik. Itu sebabnya ringgit masih jatuh cukup banyak selama
dua minggu yang akhir ini, lebih banyak daripada baht. Di Thailand sedikit-dikitnya sudah ada pemerintah
baru walaupun ketegasan serta kekuatannya juga belum teruji. Di Kuala Lumpur masih ada faktor
PM Mahathir yang sentimen politiknya tampak lain daripada wakil perdana menterinya (Menteri
Keuangan Anwar Ibrahim). Akan tetapi, kedudukan Anwar Ibrahim sebagai bakal pengganti perdana menteri
jauh lebih kuat daripada menteri keuangan di Indonesia. Siapa yang di Jakarta bisa mengimbangi Presiden
kalau "pasar" misalnya menjadi ragu-ragu terhadap pelaksanaan paket IMF?
Dr. Sjahrir hari Senin mengatakan bahwa "Pemerintah perlu segera mengeluarkan langkah reformasi.
Bila dalam waktu dekat ini tidak ada kebijakan lanjutan, pasar akan menilai langkah reformasi sudah
selesai. Ini perlu dihindari."
Tetapi, kalau Presiden perlu istirahat sepuluh hari dan menteri keuangan pergi ke New York dan
Washington DC (apakah persiapan rencana anggaran belanja 1998/9 sudah tuntas?) maka apakah betul bisa
diharapkan apa yang dipertanyakan Dr. Syahrir? Apa yang dipertanyakan oleh (sebagian) kalangan luar
negeri adalah tekad Pemerintah untuk mengubah cara-cara alokasi resources dan proyek-proyek yang tidak
transparan dan bisa diintervensi dari atas sewaktu-waktu. Baca saja karangan di Far Eastern Economic
Review tanggal 4 Desember 1997 berjudul "Power Reversal", yang pada akhirnya memuat komentar:
"Such contradictions must leave Finance Minister Mar'ie Muhammad wondering about Suharto's
commitment to reform".
Rupanya Bank Indonesia sudah mengadakan intervensi untuk mencegah rupiah jatuh lebih keras, akan
tetapi karena keterbatasan dana yang dipakai maka tidak mempunyai dampak lama. Sentimen pasar yang
negatip segera menguasai lagi.
Kita, dan kalangan yang berkuasa, harus memutuskan. Kalau terus melemahnya rupiah TIDAK dipandang
sebagai refleksi krisis politik yang muncul, maka pada tingkat di atas Rp 4000 per dollar Bank Indonesia
harus intervensi secara lebih menyakinkan.
Apakah makna mempunyai cadangan? Untuk dipakai kalau ada keperluan mendesak. Apa perlunya sedia payung
kalau tidak dipakai waktu hujan? Apakah jatuhnya rupiah sekarang ini bukan seperti hujan lebat?
Terang Rp 4000 sudah jauh melampaui nilai tukar yang rasional diperlukan untuk memutar ekonomi.
Kalau tidak sekarang apakah intervensi untuk menyelamatkan rupiah masih harus menunggu Rupiah jatuh
ke Rp 5.000?
|
|