|
Business News, tanggal 2 Desember 1997
DAMPAK MENJALARNYA KRISIS MONETER
|
![]() |
|
Krisis ekonomi telah mulai di Bangkok permulaan Juli 1997. Mula-mula sebagai
krisis mata uang. Permintaan akan dollar pada kurs yang berlaku pada waktu
itu, sekitar 26 baht per dollar, sangat melebihi pasoknya. Ekspor tidak
meningkat lagi di Thailand karena baht yang menjadi overvalued tidak
mendukung daya saing internasional. Terangsang oleh kurs baht yang
sangat stabil maka sektor swasta pinjam modal terlalu banyak di luar negeri
untuk membiayai property boom dalam negeri. Akhirnya 58 lembaga
keuangan non-bank harus ditutup karena bankrut.
Krisis ini lalu menjalar ke Kuala Lumpur, Jakarta, Manila dan bahkan
Singapura. Mata uang baht dan rupiah mengalami depresiasi sekitar
sepertiga, ukuran IMF (ukuran dalam negeri sekitar separoh). Ringgit
Malaysia kehilangan nilai 27%..
Jatuhnya kurs mata uang tidak terlalu terkait dengan banyaknya retak
pada "economic fundamentals". IMF, misalnya, memandang fundamentals
Indonesia lebih baik daripada Thailand, akan tetapi "market sentiments"
rupanya sama jeleknya. Fundamentals Malaysia baik akan tetapi sentimen
pasar (terutama di luar negeri) mencemaskan ucapan-ucapan serta policy
pemerintah Malaysia. Jatuhnya kurs dolar Singapura lebih susah dimengerti
secara obyektip, karena fundamentals serta citra ekonominya selalu baik.
Penyakit "flu-baht" rupanya ganas dan mudah menularkan. Terimbasnya peso
Filipina juga agak susah diterangkan. Apakah peso juga overvalued? Apakah
defisit neraca berjalannya sama naiknya seperti di Thailand, Malaysia dan
Indonesia? Tetapi jatuhnya kurs peso tidak sebanyak di Thailand dan
Indonesia karena usia boom Manila juga lebih pendek.
Tahap berikutnya adala menjalarnya krisis mata uang ke bursa saham.
Explanation pertama adalah gejala ini adalah reaksi terhadap policy
pemerintah yang menaikkan tingkat bunga untuk mengetatkan likuiditas. Ini
adalah gejala klasik dan konvensional dan menjadi resep pertama IMF. Kalau
tingkat bunga tinggi maka harga saham turun.
Malaysia tidak melakukan politik uang ketat, akan tetapi bursa
saham tetap kena terpukul. Jawabnya: bursa saham mempunyuai
sentimen pasarnya sendiri.
Jatuhnya kurs mata uang disertai gejala "overshoot". Koreksi objektip kurs
mata uang rupiah tidak perlu sampai Rp 3600 per dolar AS. Ini disebabkan
oleh sentimen pasar.
Gejala overshoot mi membuat proses stabilisasi moneter sangat sulit. IMF
akan minta kebijakan moneter yang sangat ketat. Ini pasti menimbulkan
kontraksi ekonomi, atau suatu "resesi". Maka krisis moneter akhirnya
menjadi krisis ekonomi. Mudah-mudahan untuk waktu kurang dan dua tahun.
Dunia internasional "tandang", langsung tolong. Mula-mula IMF, setelah
diminta oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti di Thailand dan
Indonesia. Malaysia tidak minta bantuan demik ian.
Amerika Serikat dan Jepang langsung turun tangan di Indonesia, bukan,
atau belum, di Thailand. Alasannya adalah mereka lebih takut dampak imbas
(ketularan) regional pada waktu Indonesia terserang. Mereka bermaksud
menghentikan proses penularan di Indonesia,
Sekarang ternyata ini tidak berhasil. Korea Selatan kena flu-Bangkok juga
dan harus panggil dokter IMF.
Dunia internasional, khususnya Amerika, menjadi lebih prihatin lagi. Kalau
penyakit Asia Tenggara sampai menulari Jepang dan Jepang akhirnya
mengalami kemunduran ekonomi, maka ekonomi Amerika Serikat, dan mungkin
juga Eropa, akan kena imbasnya. Defisit perdagangan Amerika akan
meningkat lagi kalau Asia mengurangi impornya dan mulai menggenjot
ekspornya dengan kurs mata uang yang melemah.
Apakah pengaruh menjalarnya krisis ini bagi Indonesia? Jelek! Kalau
Jepang dan Korea akan mengalami krisis ekonomi maka bank-bank mereka akan
menagih kembali kredit kepada perusahaan atau proyek di Indonesia. Juga di
Bangkok, dll-nya. "Roll-over" menjadi sukar. Nafsu menubruk devisa di
Indonesia tidak akan mereda. Kurs rupiah sukar turun dan ketinggiannya
sekarang.
|
|