|
Business News, tanggal 1 Desember 1997
MENGENAL IMF DAN BANK DUNIA
|
![]() |
|
Karena Indonesia sudah menetapkan mencari bantuan IMF dan Bank Dunia untuk
menanggulangi krisis mata uangnya maka ada baiknya kita mengenal lembaga-
lembaga internasional ini. Apa misinya, apa 'doktrin-doktrinnya', bagaimana
mereka biasa beroperasi, dan sebagainya.
Apakah ada perbedaan antara IMF dan Bank Dunia? Cukup banyak. Secara
tradisional tugas IMF adalah membantu negara yang bersangkutan, artinya yang
mencari intervensinya, untuk mendapatkan kembali keseimbangan neracanya
dengan dunia luar. Yang dipentingkan akhirnya adalah keseimbangan neraca
berjalannya. Akan tetapi, ini juga banyak dipengaruhi oleh keseimbangan,
artinya defisit, anggaran belanja pemerintah. Juga oleh kebijakan moneter
bank sentral serta kementerian keuangan.
Bank Dunia lebih banyak mengurusi masalah-masalah struktural. Ia membantu
negara yang bersangkutan dalam perombakan beberapa sektor dan menyempurnakan
policy-policy yang menyangkut berbagai sektor yang sangat penting, misalnya
sektor industri dan perdagangan. Biasanya yang dituju adalah liberalisasi
atau deregulasi sektor-sektor ini, atau dengan kata-kata lain, menyingkirkan
hambatan-hambatan yang merintangi produktivitasnya.
Walaupun IMF dan Bank Dunia mempunyai misi yang berlainan, namun selama
sepuluh tahun yang belakangan ini masing-masing misi menjadi overlap.
Artinya, IMF, misalnya di Afrika, sering ikut menangani masalah structural
adjustment. Di lain fihak, Bank Dunia kadang-kadang, atau lebih sering,
bisa memberi 'quick disbursement loans' yang sebetulnya menjadi kebiasaan
bantuan IMF karena dana demikian dipakai (dalam anggaran belanja
pemerintah)untuk menyeimbangkan kembali neraca pembayaran dan/atau anggaran
belanja pemerintah.
Mengapa kedua instansi bisa memberikan bantuan yang serupa? Ini karena
perkembangan sejarah, dan terkait dengan besar dana bantuan yang disediakan
oleh IMF atau Bank Dunia itu. Yang menyediakan dana bantuan terbesar juga
mempunyai pengaruh terbesar.
Di Indonesia misalnya, IMF-lah yang akan bertanggung jawab atas program umum stabilisasi serta mencari pola makro-policy baru yang lebih sehat. Dana
bantuan dari IMF lebih besar daripada yang disediakan Bank Dunia.
Bank Dunia di Indonesia akan lebih bertanggungjawab atas perbaikan
struktural sektoral, khususnya sektor perbankan. Tetapi, IMF pun akan ikut
bicara dalam hal ini. Bank Dunia akan membantu mengembangkan sistim
pengendalian sektor perbankan di Indonesia agar ekonomi tidak mudah
digoncangkan oleh bank bobrok, kredit macet serta proyek-proyek jelek,
seperti sekarang ini. Tetapi IMF juga akan ikut bicara. Di antara
lembaga-lembaga keuangan internasional ini akan ada semacam pembagian kerja:
Bank Dunia akan mengurus pembenahan bank-bank komersial pemerintah, IMF
mengurus penyehatan bank-bank swasta dan Bank Pembangunan Asia akan
membenahi bank-bank pembangunan daerah.
Yang harus dimaklumi adalah perbedaan historis antara kedua lembaga keuangan
internasional ini, yakni IMF dan Bank Dunia, karena bisa bentrokan dengan
policy pemerintah.
"Ideologi" atau keyakinan tradisional IMF adalah bahwa prioritas yang paling
utama yang harus dijunjung tinggi adalah stabilisasi moneter. Artinya,
Indonesia harus mencapai kembali suatu kestabilan moneter dengan inflasi
yang rendah dan defisit neraca berjalan yang juga kecil (angka sasarannya 2%
dari PDB) agar "sustainable" untuk masa yang lama.
Sarana utama untuk mencapai serta menjaga agar inflasi rendah adalah
keharusan memupuk surplus anggaran belanja. Ini bisa dikatakan bertentangan
dengan doktrin Indonesia yang menghendaki anggaran belanja yang seimbang.
Akan tetapi doktrin pembangunan kita sebetulnya sudah kadulawarsa. Tepat
untuk masa lalu ketika sektor swasta masih kecil. Sekarang sektor swasta
sudah besar sekali dan pertumbuhan ekonomi tergantung daripadanya. Agar
sektor swasta bisa ekspansip maka sektor pemerintah (yakni anggaran
belanjanya) harus kontraktip. Kalau tidak maka inflasi akan tinggi.
Dalam proses mencapai stabilisasi moneter maka IMF juga menuntut agar
tingkat bunga tidak boleh diturunkan terlalu cepat. Di lain fihak,
pemerintah melonggarkan likuiditas untuk mendorong produksi. Maka tingkat
bunga bank harus diturunkan. Ini bertentangan dengan "resep IMF" karena IMF
percaya bahwa dengan melonggarkan likuiditas maka kurs mata uang akan
melemah. Belakangan ini kedua gejala memang terjadi: pemerintah
melonggarkan likuiditas dan kurs mata uang rupiah sedikit melemah. Maka IMF
akan teriak freekick! Mungkin Bank Dunia akan lebih bersimpati karena Bank
Dunia lebih cenderung mementingkan kepentingan stimulasi produksi dan ekspor.
Di belakang IMF dan Bank Dunia ada pandangan negara-negara pemegang saham
yang besar, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Apakah (kementerian
keuangan) negara-negara ini memihak IMF atau Bank Dunia?
Dalam menghadapi krisis mata uang di Asia Tenggara, yang cenderung menjalar
ke Asia Timur dan lain-lain belahan dunia, maka kurang terdapat konsensus
dalam pandangan serta teori-teori ekonominya. Maka kita juga harus pandai
memanfaatkan situasi demikian itu.
|
|