|
Business News, tanggal 18 September 1998
SISTIM DEVISA BEBAS DIPERSOALKAN LAGI
|
![]() |
|
Setelah Malaysia menerapkan pengekangan (controls) pada sistim lalu lintas devisanya maka debat di
Jakarta mulai lagi, apakah Indonesia juga tidak perlu mengadakan controls atau pengendalian pada
lalu lintas devisanya?
Pada umumnya, pemerintah dan para ekonom profesional berhati-hati dalam sikapnya, dan tidak
menganjurkan controls pada waktu ini. Sikap pemerintah dan Bank Indonesia lebih pasti: tidak
memikirkan mengubah sistim yang berlaku.
Di lain fihak, Iman Taufik dari Kadin Indonesia berpendapat bahwa "kondisi lingkungan strategis akan
memaksa Indonesia menerapkan langkah tersebut dan Kadin Indonesia akan terus mendesak diterapkannya
kebjiakan itu. Kontrol devisa yang sifatnya terbatas, atau "semi kontrol devisa", diperlukan, katanya.
Pakar pasar uang, Thoemion (BN: mohon ejaan nama ini dicheck), di TV, juga yakin bahwa apa yang
dilakukan Malaysia lebih baik daripada free float dan tingkat bunga tinggi yang dilakukan Bank
Indonesia. Keluhan dunia bisnis mengenai tingkat bunga (SBI) yang sangat tinggi dan kurs rupiah yang
bisa bergolak dari hari ke hari adalah sangat umum. Dunia bisnis tidak bisa bekerja dan survive
di lingkungan demikian.
Maka pemerintah dan Bank Indonesia betul-betul mengalami dilema. Akan tetapi, secara praktis tidak
ada pilihan lain daripada mempertahankan kebijakan yang ada sampai sekarang. Salah suatu faktor,
yang kebetulan sangat menentukan, adalah IMF. Walaupun pemerintah masih berdaulat untuk menyimpang
dari kebijakan yang sudah disetujui bersama dengan IMF, resikonya adalah bahwa kucuran dana IMF $ 1 milyar
sebulan dan seluruh paket bantuan CGI US$ 14 milyar untuk tahun anggaran ini bisa terkatung.
Ada berita dari media asing yang mengatakan bahwa Hubert Neiss in prinsip tidak keberatan terhadap
sesuatu pengendalian regim devisa. Tetapi, di hari Kamis tg 17 Oktober terbaca bantahan dari wakil
IMF di Jakarta, Kadhim Al-Eyed, (kepada Kompas) bahwa pemberitaan itu "merupakan kesalahan kutip
kantor berita asing atas pernyataan Direktur IMF untuk Kawasan Asia Pasifik, Hubert Neiss, di
Korea Selatan.
"IMF tetap berpegang pada belum saatnya bagi Indonesia untuk menerapkan kebijakan kontrol devisa.
Penerapan kontrol devisa untuk saat ini akan membuyarkan kepercayaan asing terhadap kebijakan
ekonomi Indonesia. Untuk jangka panjang, penerapan sistim kontrol devisa juga tidak efektif di Indonesia."
Demikianlah "fatwa" IMF. Untuk kepentingan praktis maka Pemerintah RI tidak bisa mengabaikannya
karena resikonya adalah "kehilangan" (kepastian) $ 14 milyar untuk tahun ini. P.M. Mahathir bisa
menerapkan controls karena Malaysia tidak terikat kepada perjanjian dengan IMF.
Pernah dipertanyakan: apakah kebijakan Malaysia akan ada dampaknya pada Indonesia?
Mula-mula jawabnya cenderung "tidak ada". Akan tetapi sekarang tampak interaksinya.
Yakni apa yang terjadi di sesuatu negara Asia Tenggara atau Timur senantiasa ada pengaruhnya di
negara-negara tetangganya. Ini adalah kelanjutan dari "contagion effect" yang mewarnai krisis
moneter di Asia.
Dampak pengaruhnya adalah pasar saham dan modal (di Jakarta), terutama fihak asing yang sekarang
dominan, merasa tak aman: apakah Indonesia akan meniru Malaysia atau tidak? Harga-harga saham di
bursa jatuh. Isyarat-isyarat yang datang dari Jakarta serba rancu. Fihak Bank Indonesia dan
pemerintah secara keras menolak akan adanya kebijakan yang "meniru" Malaysia. Tetapi dari dunia
usaha ada isyarat-isyarat yang lain, seperti disebut di atas ini. Kiranya, para pelaku internasional
di pasar modal untuk beberapa hari merasa cemas dan kurs sham serta rupiah sedikit terpuruk, tetapi
setelah beberapa lama maka mereka akan lebih mengindahkan isyarat-isyarat yang datang dari pemerintah
dan Bank Indonesia, selama itu consistent.
Yang ingin kita kemukakan di sini adalah bahwa ada dua segi dari permasalahan yang sering dicampur-adukkan.
Segi pertama adalah pengelolaan kurs (rupiah), apakah itu berdasarkan free float atau "terkendali",
misalnya bergerak di dalam suatu band atau rentang. Segi lain menyangkut "capital controls", artinya,
kalau mau transfer untuk kepentingan yang bukan untuk impor dan ekspor (artinya current account)
maka harus ada izin. Misalnya, transfer keuntungan atau angsuran pinjaman memerlukan pengujian serta perizinan.
Di Malaysia sekarang para turis pun mengeluh karena ringgit yang kelebihan tidak bisa mereka tukarkan
kembali menjadi dolar di airport ketika mau pulang. Ini contoh dari "controls".
Tetapi di Malaysia memang kebijakan baru menyangkut keduanya, pertama mengenai penentuan kurs
(yakni fixed pada R 3,8 per dollar AS), dan adanya capital controls.
Di Indonesia, Kadin Indonesia yang menganjurkan "semi kontrol" mungkin hanya ingin melihat kurs
rupiah tidak diserahkan kepada pasar secara "free float" melainkan dikendalikan oleh Bank Indonesia
supaya bergerak di dalam suatu band. Mengenai capital controlsnya kurang ditekankan. Akan tetapi,
ada pertanyaan: apakah kurs (rupiah) bisa dikendalikan tanpa capital controls? Ada yang mengatakan
tidak bisa, akan tetapi kalau bandnya fleksibel maka mungkin bisa tanpa capital controls. Tetapi, kalau
tanpa capital controls maka cadangan devisa harus lebih besar. Bisa dipenuhikah? (HABIS).
|
|