|
Business News, tanggal 09 September 1998
TIM REKONSILIASI NASIONAL ATAU HANYA KOMUNIKASI PEMERINTAH DAN KOMNASHAM?
|
![]() |
|
Gagasan Rekonsiliasi Nasional telah mencuat di Jakarta. Pemerintah dan
KomnasHam memutuskan membentuk tim informal untuk keperluan itu hari Jum'at
yang lalu.
Apa isi sebenarnya dari kesepakatan Pemerintah dan KomnasHam ini tidak
terang. Kiranya, yang dispekati baru pembentukan tim. Dikatakan "tim itu
bisa mendorong proses rekonsiliasi untuk mencapai kebersamaan baru dalam
memajukan bangsa ke arah yang bersama-sama diinginkan. Diharapkan juga
mampu menjadi ajang untuk melupakan dendam di masa yang lalu, tanpa harus
mengabaikan masalah penegakan hukum. Hal itu penting, mengingat ancaman
separatisme dan disintegrasi dalam masyarakat." (Kompas 5/9/98) Teranglah,
yang disebut baru aspirasinya, belum cara serta jalan ke arah itu. Di
jalan itu banyak bagian akan sangat licin sehingga mudah terpleset, dan
bagian lain penuh krikil-krikil serta batu yang tajam.
Tim kerjasama antara KomnasHam dan Pemerintah baru bersifat "informal",
sebelum dibentuk secara resmi oleh Presiden. Anggota tim dari pemerintah
adalah Menkeh (berfungsi sebagai penghubung), Mendagri, Menko Polkam,
Menhamkam/Pangab. Dari Komnas belum ada kepastian. Dibuka kemungkinan
melibatkan unsur-unsur LSM.
Marzuki Darusman dari KomnasHam menekankan (sebagian) maksudnya, yakni
"untuk meliput berbagai persoalan yang dipandang perlu untuk mendapat
perhatian presiden dan kabinet untuk memperoleh penanganan dan
sosialisasi". Menkeh Muladi, sebagai wakil pemerintah menekankan agar
"melupakan dendam masa yang lalu (tanpa mengurangi upaya-upaya hukum)".
Antara kedua maksud itu bisa ada perbedaan besar. Bagi Marzuki tim menjadi
jembatan komunikasi untuk mendapat pengertian pemerintah mengenai
masalah-masalah penting. Untuk Muladi (Pemerintah) yang penting adalah
melupakan dendam masa lalu. Misalnya, jangan balas dendam pada Suharto?
Tokoh-tokoh pemerintah dan masyarakat banyak yang mendukung gagasan
Rekonsiliasi Nasional. Pertama, Menhankam/Pangab Jendral Wiranto.
Baginya, tujuannya adalah membangun kembali satu visi dan semangat untuk
menyelesaikan bersama masalah yang dihadapi bangsa. Tidak ada gunanya kita
saling menyalahkan, saling mencurigai, dan saling hujat, padahal dibutuhkan
kebersamaan, pengertian untuk menyelesaikan masalah.
Mantan Mendagri Rudini berpendapat masih ada kesempatan bagi Presiden
Habibie untuk menyelenggarakan rekonsiliasi nasional sebagai upaya
menghilangkan sentimen dan membina kerukunan nasional. Kecurigaan di
kalangan tokoh politik atau pun antar kelompok etnis dan keagamaan tidak
boleh menghalangi upaya rekonsiliasi yang justru diperlukan untuk
menghilangkan kecurigaan ini,
Nurcholis Madjid juga mendukung gagasan ini. Dalam keadaan apapun, politik
balas dendam tidak boleh terjadi. Diperlukan pengorbanan dan kesadaran
bahwa rekonsiliasi nasional mutlak dibutuhkan jika bangsa Indonesia tak
ingin terus tercabik-cabik dengan masalah intern, sementara masyarakat
dunia berpacu meningkatkan kesejehtaraan bangsanya.
Budi Hardjono dari PDI (non-Megawati) mengaitkan rekonsiliasi ini dengan
kedudukan Presiden Habibie. Ia berpendapat bahwa lebih baik semua
kelompok, terutama yang terus-menerus menyerang Habibie, melunak dulu dan
memberi solusi yang lebih konkrit.
Mantan Sekjen DPP Golkar, Sarwono Kusumaatmadja, juga minta masyarakat agar
tidak mengganggu Presiden Habibie. "Saya setuju Habibie tak usah direcoki
dulu. Berikan dia waktu untuk membenahi. Habibie sekarang ibarat membawa
lap kotor. Kalau disuruh ngepel, ya malah makin kotor. Jadi, ya biarkan
saja".
Bisa dipertanyakan, apakah tim rekonsiliasi nasional ini secara operasional
bisa beropersi dalam waktu yang dekat ini? Dalam pelaksanaannya, bisa
dilihat sejumlah masalah.
Pertama, KomnasHam harus mencari di antara jajarannya yang bersedia duduk
di tim demikian. Bisa dibayangkan ada anggota KomnasHam yang enggan duduk
di satu barisan dengan tokoh-tokoh pemerintah seperti Menteri Dalam Negeri
dan Menko Polkam, karena mempertanyakan, kedua mereka itu "part of the
solution atau part of the problem"? Tetapi, karena sudah terlanjur basah
maka sejumlah anggota yang tampil di depan pers Jum'at sore itu, yakni
Marzuki Darusman, Bambang Soeharto, Koesparmono Irsan, BN Marbun, Prof. Ch.
Himawan dan Samsuddin, kiranya tidak bisa menolak.
Untuk mengajak unsur-unsur LSM dan tokoh-tokoh non-pemerintah yang lain
bisa sukar kalau mandat tim ini tidak jelas, juga rambu-rabunya.
Tokoh-tokoh yang pernah melontarkan gagasan ini di masyarakat, seperti
Norcholis Madjid, Rudini, Buyung Nasution, Budi Hardjono, dan Sarwono,
mungkin sulit juga untuk menolaknya. Sangat mungkin mereka akan minta
ketegasan rambu-rambu serta sasarannya. Tetapi, tokoh-tokoh yang
benar-benar punya massa adalah Megawati, Gus Dur dan Amien Rais.
Dilemma operasional tim rekonsiliasi nasional ini adalah menggabungkan
sasaran dari gerakan reformasi, dan yang penting adalah pembersihan KKN di
jajaran pemeritahan, di satu fihak, dan di lain fihak, "memberikan Habibie
waktu serta kesempatan yang lebih banyak". Pemerintah Habibie masih
dipandang sebagai kelanjutan pemerintah Suharto yang penuh KKN. Dari
pemerintah yang tidak benar-benar terdiri dari para "reformator" yang dulu
menantang pemerintah Suharto, sukar diharapkan tindakan-tindakan tegas.
Menkeh Muladi sebelumnya adalah anggota KomnasHam, bukan anggota pemerintah
Suharto. Tetapi, ketika didesak wartawan, apakah rekonsiliasi ini termasuk
perlakuan terhadap mantan presiden, Menkeh menyatakan tidak. "Nggak, nggak
sampai ke situ".
Maka tim ini dalam kenyataannya nanti mungkin hanya berupa tim kerjasama
antara Pemerintah dan KomnasHam. Lalu, apakah tokoh-tokoh KomnasHam bisa
mendapat dukungan massa di Indonesia yang luas? Sangat tergantung dari
hasil-hasilnya. (HABIS)
|
|