Business News, tanggal 04 September 1998

TAROHAN BESAR P.M. MAHATHIR

[ Index ]


Banyak berita serta komentar hari-hari ini ditujukan kepada Perdana Menteri Mahathir dari Malaysia yang mengambil keputusan untuk menerapkan capital controls pada lalu lintas devisa. Kurs ringgit sementara dipatok pada 3,8 ringgit per dolar AS..

Di Indonesia kiranya banyak yang mengagumi keputusan perdana menteri Malaysia itu. Pemilik perusahaan besar (konglomerat) yang mengidap utang dollar besar, para dealer di lantai bursa dan pasar uang, banyak mendukung gagasan mengendalikan kurs rupiah agar ada kepastian yang lebih besar. Tetapi, kalau mereka ditanya apakah setuju mematok kurs rupiah pada Rp11.000 per dollar maka banyak pemimpin perusahaan besar itu akan keberatan, karena pada kurs itu mereka tak mampu mengangsur utangnya, bahkan tidak bisa membayar bunganya. Mereka mungkin ingin melihat kurs rupiah dipatok pada, misalnya, Rp 7000. Tetapi, itu menyalahi prinsip pengendalian kurs mata uang: yakni kalau kursnya mau (lebih) dibekukan maka harus mendekati kurs pasar pada waktu permulaan sistim baru itu. Malaysia mematok kurs ringgitnya pada 3,8 per dollar, dekat pada tingkat keseimbangan sekarang. Yang penting adalah bukan pematokan kursnya, melainkan mencegah spekulasi valas, yang diharapkan bisa lebih menstabilkan kurs ringgit.

Kekesalan Pak Mahathir pada IMF yang mendesakkan pada negara-negara Asia yang minta bantuannya untuk menjaga kebebasan mutlak (termasuk capital account) pada regim devisanya, ditambah keharusan untuk melakukan kebijakan uang ketat dengan suku bunga yang (sangat) tinggi, bisa dimengerti karena sampai sekarang resep IMF ini tidak berhasil menghentikan krisis moneter dan ekonomi. Sampai sekarang resesi, artinya laju pertumbuhan ekonomi menjadi negatip, terjadi di Korea, Thailand, Indonesia (paling parah), Filipina, bahkan di Malaysia dan Singapura. Ekonomi Jepang pun sekarang masuk resesi (negative growth). Ekonomi Rusia masuk krisis. Dunia sangat mungkin ada di ambang pintu resesi global.

Walaupun diagnosa serta obat IMF tidak ada jaminan mujarabnya, namun negara-negara seperti Indonesia, Thailand, Korea dan Filipina, yang ada di bawah pengawasan IMF, tidak bebas lagi merubah regim devisanya. Dapat dipastikan IMF menolak kebijakan Malaysia yang baru itu. Di belakang IMF itu berdiri Amerika Serikat, khususnya departemen keuangannya (Treasury) yang pandangannya sangat orthodox. IMF orthodoxy ini, benar atau salah, didukung oleh G-7, dan Wall Street membuntut.

Di negara barat, terutama di Amerika Serikat, telah muncul pakar-pakar ekonomi kaliber dunia, seperti Paul Krugman (MIT), Jeffrey Sachs (Harvard) dan Baghwati (Columbia), yang mengeritik keras pandangan orthodox ini. Belakangan ini Paul Krugman bersuara keras di simposium di Singapura, menganjurkan negara-negara berkembang jangan menerapkan regim devisa yang bebas mutlak. Jangan membebaskan capital accountnya. Suara profesor ini mempunyai gaung yang keras. Juga di Jakarta.

Kiranya, Krugman, Sachs dan Baghwati benar "dalam keadaan yang (sudah) normal". Artinya, lima tahun yang akan datang sangat mungkin regim devisa yang mutlak bebas tidak akan diterapkan lagi secara luas di negara-negara berkembang, mungkin juga tidak didukung lagi oleh badan-badan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Untuk keadaan yang sekarang di Indonesia maka resiko salah pilih sangat besar. Ini lepas daripada pandangan IMF yang negatip. Pak Mahathir tidak terikat pada IMF dan ia bebas untuk mengambil tindakan itu. Ia harapkan kurs ringgit lebih stabil kalau serangan-serangan spekulasi valas bisa dicegah. Tetapi, apakah keuntungan lainnya?

Ekonomi Malaysia mempunyai kelemahan-kelemahan yang serupa seperti di Thailand dan Indonesia, yakni sektor perbankannya terpuruk dan banyak sekali kredit macet. Malaysia juga punya "KKN-nya", akan tetapi "yang berbisnis dengan kolusi dengan pejabat bukan keluarga pejabat tinggi melainkan partai UMNO. Maka ekonomi Malaysia juga kena krisis kepercayaan pasar dan ada pelarian modal ke luar. Sebelum krisis moneter kurs ringgit adalah sekitar 2,5 per dollar, kurs baht adalah sekitar 25 per dollar. Sekarang kurs ringgit dipatok pada 3,8; kurs baht adalah 40,7. Maka depresiasi ringgit lebih ringan daripada baht.

Resiko besar pada taruhan Mahathir adalah karena keadaan ekonomi Malaysia masih rentan. Laju pertumbuhan ekonomi masih negatip. Tindakan Mahathir bisa menggoncangkan kepercayaan investor (bukan perdagangan impor dan ekspor). Investor mulai akhir bulan harus minta izin kalau mau transfer keuntungan atau membayar kembali utangnya, artinya harus diuji apakah transfernya merupakan capital account yang halal. Investor yang mau memindahkan modalnya ke Malaysia juga harus diuji maksudnya. Kalau motifnya spekulasi (misalnya oleh hedge funds seperti punya Soros) akan ditolak. Kalau administrasi serta birokrasi di Malaysia bisa menimbulkan kepercayaan dan bisa bekerja tanpa KKN - dan citra birokrasi Malaysia cukup baik - maka tarohan Mahathir bisa menang. Di lain fihak, dipelaskannnya menteri keuangan Anwar Ibrahim tidak menolong menanamkan atau mengembalikan kepercayaan internasional.

Pak Mahathir, dengan segala hormatnya, "main judi" dengan tarohan besar. Keadaan konjungtur ekonomi dunia sangat tidak membantunya. Kita di Indonesia lebih baik jangan fikir-fikir untuk menirunya dalam waktu dekat ini. Dalam kurs rupiah yang masih sangat terpuruk itu, mengharuskan adanya izin untuk capital account transfers sama dengan harakiri. Nanti, kalau laju pertumbuhan ekonomi kembali positip, boleh dipertimbangkan. (HABIS)