| (14 April 2003)
JANGAN UBAH POLA KEBJAKSANAAN EKONOMI |
![]() |
|
Perang Irak praktis sudah selesai kalau dipakai definisi “perang konvensional”, artinya perang tentara melawan tentara. Setelah pasukan Amerika bisa masuk Bagdad tanpa banyak perlawanan dari tentara reguler Irak maka dengan penguasaan tentara AS “pemerintahan Saddam Hussein tidak berfungsi lagi”. Itulah merupakan definisi kedua dari akhir perang. Untuk mengukur dampak perang Irak kepada ekonomi dunia maka telah digunakan dua skenario: perang pendek dan perang panjang. Perang pendeklah yang sekarang menjadi relevan. Menurut perkiraan para pakar internasional maka dampak perang pendek, terutama terhadap ekonomi Indonesia, tidak besar. Paling-paling laju pertumbuhan PDB terpangkas 0,5%, atau kurang. Maka kalau perkiraan resmi semula adalah laju pertumbuhan PDB tahun 2003 4%, sekarang bisa dipakai perkiraan 3,75%. Tetapi masih ada momok SARS yang dampak ekonominya kepada ekonomi Asia Timur dan Tenggara bisa lebih besar. Tetapi, kepastian masih sangat kabur. Indonesia juga tidak, atau belum, terkena virus SARS ini seperti Guandong, Hong Kong dan Singapura. Maka untuk sementara mungkin kita bisa ramalkan bahwa laju pertumbuhan PDB Indonesia bisa terpangkas sampai 0,5% di tahun 2003. Artinya, perkiraan pertumbuhan PDB 3,5% cukup realistik. Bank Dunia belakangan ini memasang angka pertumbuhan 3,3-3,5% untuk ekonomi Indonesia. Artinya, dampak segala musibah kepada ekonomi Indonesia tidak terlalu gawat. Mengikuti perspektip ini maka saran beberapa ekonom untuk merubah strategi ekonomi Indonesia harus ditinjau. Peringatan mereka terlalu alarmis. Didi Rachbini minggu yang lalu mengatakan bahwa Indonesia harus mementingkan pasar dalam negeri, karena pasar ekspor tidak bisa diandalkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Juga penanaman modal asing masih akan takut masuk ke Indonesia. Prof. Bambang Sudibyo dari Gajah Mada, dan Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dikutip oleh surat kabar Kompas, hari Rabu, 9 April 2003, dengan judul (di halaman pertama): “Saatnya Terapkan Kebijakan “Inward Looking”. Secara operasional dianjurkannya: “gaji pegawai negeri yang terlalu rendah perlu dinaikkan, upah buruh yang terlalu rendah juga perlu dinaikkan, demikian pula proteksi sektor produk-produk nasional, terutama produk pertanian”. Didi Rachbini menganjurkan pertumbuhan ekonomi lebih didasarkan konsumsi dan pasar dalam negeri. Kadin juga sering minta proteksi ekonomi dalam negeri. Dalam menghadapi pasar AFTA maka sektor jasa-jasa takut disaingi oleh perusahaan dari Singapura, Malaysia, dsb-nya. Sebetulnya, Pemerintah RI sekarang, lewat juru bicaranya Menteri Perindustrian dan Perdagangan, sudah lebih sering mengeluarkan suara yang proteksionis. Dalam hal ini sentimen bisnis di Indonesia lebih dekat kepada Filipina ketimbang Thailand. Di lain fihak, Menteri Rini Suwandi juga terikat kepada janji-janji Indonesia dalam rangka WTO. Akibat semuanya ini maka ada kecenderungan sektor pertanian, khususnya bahan makanan (beras, gula, kedele), proteksinya dinaikkan. Akan tetapi, di praktek ceritanya lain. Sistim pengendalian impor di Indonesia bocor seperti saringan. Kalau bea masuk melebihi 20% maka barangnya mulai diselundupkan dengan berbagai cara yang tidak mudah ditangkap. Maka pada akhirnya proteksi untuk gula, beras, kedele akan self-defeating karena alat-alat pelaksanaannya semua berengsek. Akhir-akhirnya, ekonomi Indonesia tetap merupakan ekonomi terbuka. Usul-usul Bambang Sudibyo bisa merusak pola kebijakan makro dan keseimbangan ekonomi makro. Bayangkan gaji dan upah buruh dinaikkan dua-tiga kali. Uangnya dari mana? Cetak saja, artinya biar ada defisit anggaran belanja yang menggelembung. Nanti dibiayai dengan pinjam dari Bank Indonesia. Ini sebetulnya tidak dimungkinkan oleh UU Bank Indonesia. OK, pinjam saja dari masyarakat lewat penerbitan obligasi, atau pinjam secara komersial dari luar negeri. Kalau jumlah obligasi pemerintah terlalu banyak maka tingkat bunga akan meningkat dan sektor non-pemerintah tidak mampu bersaing mendapat dana-dana yang diperlukan (gejala overcrowding of the market). Karena perang Irak praktis sudah lewat maka kita lebih baik jangan neko-neko cari jalan pintas untuk mengangkat ekonomi dalam negeri dengan bootstrap operation (badan kita seolah-olah bisa diangkat kalau kita jinjing sepatu-boot kita ke atas). Itu menipu diri saja. Salam. |
|