| (07 April 2003)
KEPENTINGAN NASIONAL DAN PERANG DI IRAK |
![]() |
|
Sebagian terbesar penduduk Indonesia beragama Islam, yang dalam perang di Irak tersulut solidaritas Islam. Di Timur Tengah ada gejala yang sama. Penduduk yang solidaritas agamanya tidak terlalu tersengat tetap menolak perang di Irak karena Amerika Serikat meninggalkan PBB dan Dewan Keamanannya, yakni organisasi antar-bangsa satu-satunya untuk menjaga perdamaian di dunia. Mereka itu lebih anti-perang ketimbang anti-AS. Amerika Serikat adalah negara adikuasa tunggal sesudah perang dingin usai. Seluruh dunia tergantung kepada AS, paling sedikit di bidang ekonomi. Bagi Indonesia maka AS merupakan pasar ekspor yang terpenting. Pasar uang dan modal juga banyak didominasi oleh AS. Bagi Indonesia maka Jepang adalah negara industri kedua yang paling penting, akan tetapi negara ini pun akhirnya “tunduk” kepada pengaruh AS. Hanya Eropalah yang belakangan ini, setelah terbentuknya Uni Eropa, bisa menjadi semacam countervailing power terhadap AS. Tetapi, ekonomi AS lebih besar daripada ekonomi Uni Eropa, dan mata uang Euro masih baru. Kalangan dalam negeri yang menolak perang di Irak dan yang serba bertendensi anti-Amerika mengusulkan macam-macam sanksi terhadap Amerika. Dari pemboikotan simbol Amerika, seperti McDonald dan KFC, sampai seruan untuk memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, bahkan agar Indonesia keluar saja dari PBB. Semuanya ini tidak masuk akal dan merugikan kepentingan nasional. Buat apa Indonesia harus sendirian “mengorbankan” hubungan dengan AS sedangkan negara-negara di Timur Tengah tidak? Keluar dari PBB merupakan gagasan yang tidak berdasarkan akal sehat pula. Kalau kelak PBB akan ada peran dalam pembangunan kembali Irak, sayang kalau Indonesia tidak bisa ikut. Kalau Irak akan dibangun kembali dengan meninggalkan regim yang otoriter maka Indonesia punya banyak pengalaman. Yang bisa membantu Irak adalah negara-negara seperti Turki, Rusia dan Indonesia. Terhadap Turki penduduk Irak mungkin punya was-was. Terhadap Indonesia tidak. Dalam sejarah diplomasi maka Indonesia juga terkenal sebagai negara yang senantiasa cari jalan tengah dan menjauhi solusi-solusi yang ekstrim. Di kalangan ASEAN-10 maka Indonesia juga amat dihargai oleh negara-negara anggota baru, seperti Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Belakangan ini ada wacana yang mencuat, yakni agar Indonesia (lebih) meninggalkan dolar dan berpaling ke euro. Kalau wacana demikian lahir didorong oleh semangat anti-Amerika maka ini juga tidak sesuai dengan kepentingan nasional. Akan tetapi, sudah setahun mata uang euro menguat dan sekarang lebih tinggi nilainya ketimbang dolar AS. Maka gagasan menyimpan cadangan devisa kita lebih banyak dalam mata uang euro masuk akal. Akan tetapi, rincian operasionalnya (berapa, kapan) lebih baik diserahkan kepada Bank Indonesia yang lebih kompeten. Tetapi, setiap hari koran penuh dengan komentar. Wakil Presiden pun tidak ketinggalan. Yang harus kita hargai adalah bahwa pejabat-pejabat pemerintah yang berkompeten tidak langsung menyatakan dukungannya. Mereka tidak terjebak, walaupun tidak berani langsung melawan pernyataan yang lantang dan latah. Maka akhirnya saran mereka adalah “pikir-pikir dulu secara matang”. Dalam segala debat ini Presiden Megawati Soekarnoputri tetap bungkem. Kadang-kadang lebih baik bego daripada lantang tetapi salah. Mata uang ada tiga fungsi. Pertama untuk menyatakan harga, kedua sebagai alat pembayaran, ketiga sebagai penyimpan nilai (store of value). Sebagai pernyataan harga tergantung dari pasar. Misalnya, harga di pasar minyak bumi secara tradisional dinyatakan dalam dolar. Indonesia, khususnya Pertamina, adalah pemain pasar yang kecil sekali, tanpa kekuatan pasar. Mata uang juga berfungsi sebagai alat pembayaran. Apakah Pemerintah harus memaksa semua perusahaan minyak (asing dan nasional) untuk menyetor kewajibannya kepada Pemerintah dalam mata uang euro? Bisa saja akan tetapi harus dihitung-hitung kerugian dalam konversinya diwaktu Pemerintah harus membayar beberapa kewajibannya (bayar utang, dsb-nya) dalam mata uang dolar. Maka yang paling penting adalah dolar atau euro sebagai penabung nilai. Kalau euro sekarang lebih kuat daripada dolar AS, apakah ada jaminan akan terus demikian? Selama perang panas di Irak mengamuk maka kurs dolar di pasar juga mencerminkan sentimen prospek AS cepat menang atau tidak. Sekali lagi, semua itu sangat spekulatip. Lebih baik serahkan kepada Bank Indonesia. Juga untuk mempertimbangkan emas sebagai store of value. Salam. |
|