Lunch, Gaya Wanita Indonesia.


> By : Myra Sidharta <

 

Sudah lama saya tidak makan siang di restoran, tetapi kali ini saya diajak oleh seorang wanita karir muda yang ingin bicarakan beberapa masalah pribadi dengan saya. Kami mengambil makanan dari meja yang disajikan secara prasmanan, buffet-lunch namanya, atau makan sesuka hati. Yang mengherankan adalah jumlah wanita yang berada di restoran pada saat itu.

"Belum sampai sepuluh tahun yang lalu, tempat semacam ini hanya dipenuhi laki-laki, businessmen, " kata saya, "tetapi sekarang, coba lihat, hampir semua wanita, dan biasanya mereka datang dalam kelompok, tidak ada lelaki di antara mereka. Siapa sih mereka sebenarnya?"

"Power women," jawab "Diana", wanita yang menemani saya. "Mereka bukanlah wanita biasa, meskipun sehari-hari mereka "hanya" ibu rumah tangga saja. Umumnya mereka tidak bekerja di kantor, tetapi kekuasaan mereka besar sekali. Apalagi kalau mereka sedang berkelompok. Masakan ibu tidak turut dalam kelompok seperti arisan atau sejenisnya?"

Saya tidak asing dengan keadaan itu, di rumah pun, saya tidak membiarkan suami saya berkuasa begitu saja, kalau tidak berani memberontak secara terbuka, saya menerapkan taktik guerilja. Tetapi saya tidak turut dalam suatu kelompok tetap seperti arisan dsb.

"Arisan mempunyai banyak manfaatnya," kata Diana. "Selain berkumpul, wanita merasa mendapatkan kekuasaan dari uang yang mereka keluarkan, yang pada saat tertentu berkembang biak menjadi jutaan. Kebersamaan mereka juga untuk membentuk kekuatan yang bisa membuat para lelaki bertekuk lutut."

"Jutaan," tanyaku, "apakah mereka mampu masukan sejuta setiap bulan? Saya pernah ikut arisan dahulu, berjumlah sepuluh atau dua puluh ribu saja. Dua kali saya turut, saya yang pertama menarik dan dimarah setengah mati oleh peserta lain. Apalagi ketika beberapa bulan kemudian terjadi devaluasi, sehingga peserta lain merasa lebih dirugikan lagi. Makanya saya tidak mau ikut lagi, untung saya kok, malahan diomeli!"

"Ya, tetapi sekarang mereka sudah lebih pintar. Ada arisan yang memakai uang asing, ada juga yang memakai emas. Jangan lupa, mereka bukan sembarangan wanita, lihat saja pakaian mereka: Semua batik sutra dengan rok pleats, lengan panjang dan .... yang paling mengesankan ialah bahu mereka dengan banyak busa di dalamnya. Itulah bahu kekuasaan!"

Apa yang mereka bicarakan? Politik kekuasaan, kekuasaan di rumah, di shopping mall serta alat-alat yang menambah kekuasaan, perhiasan, tas tentu telpon genggam. Yang tidak dibicarakan adalah alat-alat rumah tangga, kecuali yang canggih, misalnya microwave, yang di bawah itu, diserahkan kepada pembantu.

"Lihat di meja itu yang di pojok? Di sana para sekretaris berkumpul, diantara yang mereka bicarakan tentu boss dan istrinya. Istri boss kira bahwa ia berkuasa? Dalam banyak hal sekretaris lebih berkuasa dari atasannya. Di balik senyum mereka yang manis, pakaian yang perlente, perhiasan imitasi, terdapat suatu ke-alot-an yang sukar ditembus."

Ketika itu tiba saatnya untuk mengambil dessert dan kita mengambil tiramizu, yang paling in sekarang ini serta sedikit buah-buahan.

"Saya rasa para power women itu pasti tidak makan makanan ini, ya?"

"Oh makan juga, yang ibu-ibu memang suka makan, jadi tambah sekilo atau dua sudah tidak nampak lagi. Justru volume badan mereka yang memberi kesan kekuasaan, selain bahu juga pinggul, kasarnya bokongnya, yang dulu dipakai untuk merayu, lalu dipakai untuk menindas. Seringkali mereka berdiit, tetapi setelah berat badannya kurang mereka menyesal, karena tubuh kurus kerempeng membuat mereka merasa lesu dan tidak cocok dengan citra mereka. Maka mereka makan seenaknya lagi sampai menambah beberapa kilo, malahan menjadi lebih gemuk dari semula lagi. Jangan lupa, bahwa sebelum mereka suka pergi ber-lunch, mereka suka masak dan kekuasaannya ditunjukkan dengan masakan mereka. Ada bapak-bapak yang merasa dirinya seperti balon, yang diisi dan diisi....sampai akhirnya meledak. Maka mereka lari ke istri muda karena tidak tahan dengan paksaan istrinya. Kalau sang bapak sudah terkena penyakit, mereka justru menjadi sebaliknya. Sang bapak merasa dikebiri karena tidak boleh makan ini-itu, di rumah saja tentu, karena di luar bisa saja snoepen (jajan).

Yang wanita karir justru tidak makan banyak, kalau saya pergi dengan mereka, saya selalu merasa diri saya rakus sekali. Tetapi mereka biasanya makan dessert juga dan setelah itu mereka pergi ke fitness untuk kurangi berat badannya lagi. Menjadi anggota fitness club itu juga ada gengsinya."

"Jadi sebenarnya mereka berkumpul itu untuk apa?"
"Networking namanya, membuat jaringan dan hubungan untuk menyusun kekuatan. Dalam bisnis networking sangat penting untuk mendapatkan segala fakta dan fasilitas. Yang punya putra-putri dijodokan, mereka diatur secara diam-diam, agar tidak merasa ada paksaan di belakangnya. Kemudian mereka juga bertukar pikiran. Memang perlu untuk ibu-ibu zaman ini, karena tukar menukar pikiran untuk pelbagai macam issue tentu akan membantu mereka mencari solusi pribadi."

"Jadi mereka tidak datang untuk sekedar gossip saja?"
"Gossip tentu juga ada, gossip memang perlu untuk gengsi. Siapa yang pertama menyebarkan sesuatu gossip merupakan sangat penting. Kalau dengar gossip orang, misalnya mengenai kenakalan bapak-bapak, masalah sendiri terasa sepele saja, karena masalah orang lain selalu lebih rumit. Lagipula, dalam menggossip, orang-orang seringkali memberi nasihat, bagaimana masalah itu seharusnya ditangani. Misalnya, kalau ada orang ingin bercerai, kita dengar pula masukan-masukan mengenai bagaimana perceraian dapat dihindari. Berguna 'kan? Jadi kita sudah siap kalau saatnya tiba."

Sambil minum capucino, saya mengamati para wanita yang dengan penuh keyakinan memanggil waiter dengan credit card yang berwarna logam murni. Penting juga sesekali ber-lunch dengan Diana. Cakrawala saya telah terbuka lebar hari ini. Dan Diana sendiri? Agaknya masalah pribadinya terasa sepele setelah membicarakan masalah yang dihadapi para wanita yang berkuasa ini dan sampai hari ini saya belum tahu apa yang sebenarnya ia ingin bicarakan.

Index


copyright © 1997 PInter Indonesia.