Millenium Bug (Y2K)
kembali ke indeks

Millenium Bug (Y2K) bagi Indonesia


Permasalahan Y2K

Mengapa permasalahan ? Bukankah Y2K sendiri sudah merupakan masalah ? Benar sekali, namun bagaimana Indonesia menghadapi Y2K dalam kondisi Krismon sekarang ini justeru merupakan masalah yang cukup serious. Namun beruntung juga bahwa dunia ini sudah hampir sempurna menjadi "a wired world". Sehingga bila kita sendiri "cuek", maka diujung lain, disimpul lain dalam jaringan the "wired world" itu tentu banyak juga yang merasa kurang nyaman. Demikianlah maka bilamana kita masih mencari-cari melalui berbagai seminar dan disana sini perhatian kita disita pula oleh demonstrasi, penjarahan dan lain sebagainya, maka orang lain justeru yang panik. Ini Indonesia kok adem ayem saja. Apa tidak aware tentang akibat dari Y2K. Sudah Desember 1998 mereka masih tenang-tenang saja. Kayaknya kita sudah sampai pada batas threshold yang paling tinggi sehingga perpurukan selanjutnya sudah diluar batas sensivitas kita. Sudah "unbearable", sehingga hilang rasa menghadapi faktor-faktor perpurukan lain. Maka masuklah si "simpul" lain itu mengingatkan sekalian membawa "grant" karena mungkin kasihan amat melihat kok ada negara (bukan organisasi kecil) yang tidak tahu apa itu akibat Y2K ataupun pesimis barangkali bahwa akibatnya bisa fatal. Ataukah seperti sudah biasa barangkali tidak pernah berpikir struktural, sehingga planning itu dirasakan tidak punya arti apa-apa. Tunggu saja, wong kejadiannya belum terjadi, kok panik. Kan sekarang baru Januari 1999. Desember 1999 masih jauh. Bahkan sekalipun tahu bahwa 9 September 1999 atau kalau disingkat menjadi 9999, bisa menjadi satu "test case" bagi program-program yang menggunakan kode ini dalam pendekatan manipulasi angka-angka sehingga bisa terpengaruh, namun yah kita tunggu saja. Tetapi apa benar kita tunggu saja? Kan sudah ada usaha-usaha, cuma ya itu, tenggelam dalam lautan krismon dan penjarahan. Ikutilah data berikut ini.

Beberapa upaya mengatasi Y2K bug.

Pemerintah RI sudah mengeluarkan beberapa ketentuan legal yang mengatur. Ada Keputusan Presiden (Keppres) No.186 tahun 1998 tentang pembentukan tim koordinasi telematika Indonesia. Bahkan tidak kurang dari Menko Wasbangpan sendiri yang memimpinnya. Lalu ada Keputusan Menko Wasbangpan No. 59/KEP/MK.WASPAN/II/1998 tentang tim pengarah pelaksana koordinasi telematika Indonesia. Disini Menteri Perhubungan yang kegilir memimpin. Ada lagi Keputusan Menko Wasbangpan berikutnya, yaitu no.60/KEP/MK.WASPAN/II/1998 tentang sekretariat tim koordinasi telematika Indonesia. Perhatian dari semua ini memang pada awalnya adalah untuk membina: prasarana dasar telematika Indonesia, bidang aplikasinya, sumber daya telematika, serta pengamanannya. Banyak yang malah belum mengetahui tentang telematika itu karena memang belum memasyarakat, sekalipun ada rencana pemerintah kearah sana. Ada anggauta masyarakat yang menyangka bahwa telematika adalah "matematika jarak jauh", padahal asal katanya dari telekomunikasi dan informatika. Dan orang mungkin masih ingat konsep "Nusantara 21" yang ramai dibahas sewaktu masih ada Departemen Parpostel. Rasanya sih, telematika ini mengambil alih atau meneruskan "Nusa 21" itu, karena Nusa 21 dirasakan syarat bermuatan infrastruktur sedangkan Telematika Indonesia melangkapinya secara luas. Lagian kan drivernya sudah non-existent. Deparpostel dahulu adalah drivernya. Kita berdoa semoga tidak sama nasibnya telematika ini nanti setelah Juni 1999 kalau arah angin berembus kearah yang berbeda. Apakah Y2K itu menjadi perhatian Telematika Indonesia ? Tentu saja, karena ia merupakan bagian dari seluruh aspek telematika. Sehingga konon ada "Y2K watch" sebagai bagian dari Telematika Indonesia. Itulah yang menyebabkan undangan Menteri Perhubungan pada beberapa orang yang dianggap dapat memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah ini dua hari sebelum jatuhnya bulan ramadhan. Rencana kemudian untuk memotret keadaan dimana kemudian diharapkan keluarannya adalah Peta Y2K Indonesia, sehingga dapat diantisipasi upaya penaggulangannya nanti.

Upaya lain

Upaya lain yang tidak terdengar atau berbuat tanpa banyak bicara adalah usahanya para vendors. Hampir setiap vendor yang besar-besar ataupun yang memiliki pelanggan diman-mana sudah melakukan upaya untuk menjamin sistemnya "Y2k compliant". Tetapi diman-mana diluar negeri sekalipun upaya yang demikian walaupun cukup, bahkan sangat menembak sasaran langsung dirasakan kurang "sreg" bilamana secara nasional pemerintah tidak kelihatan apa-apa. Bahkan sering, entah benar entah cuma prasangka tanpa dasar, ada "prejudice" bahwa tidak sedikit yang mengail diar keruh alias mengambil kesempatan dalam kesempitan. Charge untuk jasa penyelesaian masalah ini melangit, padahal pekerjaan itu baru bisa dinilai bilamana tahun 2.000 itu sudah dimasuki. Dari pihak vendor tentu ada tangkisan balik bahwa upaya mereka itu kan juga untuk kepentingan mereka bukan melulu kepentingan user. Kalau masalah nanti timbul, tentu user lari kemana kalau bukan kepada vendor atau agen-agennya. Jadi untuk ini mereka juga berkepentingan. Bahwa ada biaya tentu tidak bisa dihindari karena memang ini bukan salah siapa-siapa bahwa sistemnya demikian, padahal yang namanya garansi kan tidak mencakup hal-hal Y2K bug. Jadi siapa yang harus menaggung biaya ini. Bahkan biaya-biaya itu juga hanya kalau ada tambahan peralatan ataupun jasa expertise yang memang harus dibayar. Sebagian dari biaya itu juga masih menjadi tanggungan vendor. Alhasil, semua persoalan menjadi tambah rumit bukan tambah sederhana. Lalu mengacu kenegara-negara lain bisa bikin tambah puyeng melihat alokasi anggaran untuk Y2K yang nauzubillah. Kalau secara nasional berarti harus masuk anggaran, dibicarakan di DPR, dan APBN tambah bengkak. Padahal ordenya konon sampai milyaran dollar. Nah lu, siapa yang harus memikul semua ini ? Apalagi pemerintah menghadapi pemilu , dan harus memberi kesan tidak terlampau gila dalam menyusun APBN. Lalu nanti bagaimana kalau setelah pemilu, apa ada yang mau menerima dan meneruskan usaha ini ?

Kenetralan masalah Y2K

Y2K itu netral dalam pengertian bahwa ia tidak dapat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi apapun untuk merubahnya atau menundanya. Komputerisasi seperti pendidikan, ataupun pembangunan tidak mungkin dilepas dari kehidupan masyarakat. Karenanya siapapun juga yang akan memimpin negara ini beserta aparaturnya pasti akan menghadapi kenyataan ini sebagai suatu realita hidup. Y2K itu akan ada, sama dengan akan adanya Aids, atau HAM atau lingkungan hidup. Namun berbeda dengan semua diatas itu, Y2K sialnya tidak bisa ditunda. Ia adalah nyata, pasti dan sudah menunggu, tidak mau bergeser selangkahpun. Kita boleh menunda dulu anggaran untuk aids, atau untuk lingkungan hidup, namun silahkan coba menunda perhatian untuk Y2K. Tidak akan bisa kecuali yah, nekat saja menghadapi risikonya sambil berdoa semoga kita selamat dan tidak makin terpuruk jauh dari keterpurukan sekarang. Memang ada yang secara sinis mengatakan - dan ini benar adanya - bahwa kan banyak instansi yang pakai komputer tapi output komputer tokh tidak dipakai untuk pengambilan keputusan atau penentuan kebijaksanaan. Jadi buat mereka ini sudah Y2K compliant secara alamiah. Benar sekali 100 %. Tapi bagaimana dengan mereka yang pakai secara benar, apalagi yang menyangkut kepentingan dan urusan-urusan dengan publik. Bank misalnya, STNK misalnya, kesehatan misalnya, atau sebutkan saja demikian banyak yang tergantung kepada isu ini. Perlu ada "contingency plan" untuk mereka. Bahkan penyusun pernah mengadakan dialog dengan pihak yang sudah dibantu penuh oleh vendor dalam memecahkan persoalan Y2Knya. Mereka sudah lulus "Y2k compliant test" dari vendor. Pada waktu ditanyakan persoalan ini pejabatnya dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa organisasi mereka sudah full compliant. Penyusun kemudian bertanya apakah dalam jaringan Intranetnya atau kalau ada Extranetnya juga sudah ditest. Dikatakan, ya. Tapi kalau dipandang dari daerah yang pakai sistem Client/Server yang PC based, atau juga standalone PC's yang banyak itu, apakah juga ditest? Dikatakan diluar jangkauan karena itu tokh kecil pengaruhnya, lagian bisa diisolasi. Apa ya, karena mereka kan masih download dan bahkan juga upload data-data mereka keorganisasi ini. Barulah ada anggukan tanda setuju bahwa merekapun perlu masuk dalam peta Y2K. Bahkan kalau seluruh jaringan Intranet atau bahkan Extranet sudah fully compliant, apakah organisasi kita bisa menutup diri terhadap hubungan dengan dunia luar ? Belum lagi yang tidak kelihatan, ngumpet diantara kerasnya hardware, bahkan juga dibelakang lunaknya software. Inilah "embedded system", dan dapat dihitung mulai dari "black box" dipesawat terbang, pengatur sinyal kereta api sampai pada pengaturan lampu lalu-lintas. Inilah yang menyebabkan mengapa Bank Dunia seperti yang dijelaskan pada bagian awal dari tulisan ini merasa "uncomfortable" kalau Indonesia sepuruk apapun tidak memikirkan Y2K ini, padahal senang atau tidak senang, suka atau benci Indonesia adalah salah satu simpul penting dari the "wired world" itu. Kalau satu simpul ngadat, bisa ngadat juga sebagian "cluster" dari jaringan itu padahal tidak bisa diketahui sampai ia terjadi, seberapa luasnya "virtual cluster" itu. Jangan-jangan sebagian terletak dinegara-negara yang sudah susah payah menginvestasi biayanya milyaran dollar untuk ini.

Munculnya penolong

Bank Dunia menawarkan grant untuk membantu menyelesaikan ini. Namun tentu syaratnya ada yaitu keseriusan Indonesia. Juga harus pemerintah agar diperoleh commitment dari negara. Mereka juga tahu bahwa Juni ada pemilu. Dan tahu juga bahwa angin bisa berubah. Tetapi mereka yakin akan kenetralan Y2K seperti yang dikemukakan diatas. Mereka sadar juga bahwa kesemua masalah yang dihadapi Indonesia justeru terjadi ditahun 1999, yaitu diambang pintu tahun 2000. Tetapi karena Y2K itu tidak bisa digeser, apapun juga risikonya harus diterobos. Syukur , alhamdulillah bahwa dalam bulan puasa ini ditengah kelemasan, beberapa orang yang dapat dihimpun dengan kesadaran dan dedikasi tinggi berkumpul dan bertekad untuk memulainya. Tidak jarang mereka harus pindah gedung rapat karena jalan-jalan menuju ketempat rapat yang direncanakan ditutup oleh aparat keamanan.
Ditanda tanganilah piagam kerjasama IBRD untuk InfoDev dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Maka kemudian keluarlah keputusan Ketua LAN No. 1537/ix/6/4/1998 tentang Susunan tim pelaksana program Y2K dalam rangka kerjasama LAN-IBRD. Didalamnya ada Steering Committee, ada Tim Pelaksana yang membawahi dua tim lainnya yaitu Tim Kampanye & Inventory, dan tim Evaluasi dan Laporan. Tanggal 25 Januari 1999 adalah hari dimulainya kegiatan tim, dimana dengan bantuan dua orang konsultan (satu pakar dari LN dan satu dari DN), tim ini akan mulai mengadakan inventarisasi. Enam bulan direncanakan untuk menghasilkan potret diri dalam wujud peta tematik Y2K Indonesia dengan fokus bagi instansi pemerintah dan BUMN. Tentu terkait juga instansi diluar pemerintah. Mampukah tim menyelesaikan tugas yang sangat besar ini ? Kalau melihat kepada besarnya permasalahan terhadap kecilnya dana, kelihatannya agak overstated kalau tim bisa menyelesaikannya. Tetapi satu tugas besar harus diawali dari suatu langkah kecil. Lagi pula tidak akan mungkin tugas itu diukur selesai karena selera ukuran akan terus berubah sejalan dengan berubahnya masyarakat. Namun ini bukan hambatan karena sasarannya bukan menyelesaikan secara teknis semua permasalahan Y2K yang muncul, namun lebih sebagai wadah nasional dimana perhatian Y2K itu dapat dipenjurui. Juga kita harus berpegang dan berdiri diatas kemampuan sendiri karena bank dunia hanya sebagai driver agent untuk mendorong dimulainya suatu upaya nyata menghadapi Y2K. Kalau ini sudah bergulir, maka kitalah yang harus sendiri memecahkan persoalannya. Kalaupun tidak punya dukungan, paling bisa minta loan yang harus dibayar kembali.

Penutup

Adalah suatu rahmat bilamana dalam bulan puasa ini masih sempat ada orang ataupun sekumpulan orang yang mau memikirkan sisi lain bukan politik, bukan ekonomi, bukan sembako, yang secara potensial juga dapat menentukan hari depan bangsa dan negara ini betapa kecil dan tidak pentingpun ia kelihatan dari luar tetapi sebetulnya mengandung bom waktu yang bisa melanda secara lebih dahsyat kehidupan kita sehari-hari nantinya. Mudah-mudahan kita semua sadar untuk mendukung tim ini, karena dinegara-negara lain upaya ini sudah terlaksana sebelum tahun 1997. Kita tentu tidak ingin menambah beban tim dengan kritikan yang tidak membangun, tetapi sebaliknya dengan masukan-masukan sejuk yang membantu memecahkan masalah. Y2K bukan masalah komputer lagi. Ia adalah masalah masyarakat, masalah kehidupan. Bahkan sisi non-komputernya dapat mengambil porsi yang dominan. Maka mari kita beramai-ramai membantu mereka.

kembali ke indeks