Iwan Jaya Azis

PROSPEK FAKTOR EKSTERNAL UNTUK MERAMAL


[Index]

Karena tahun 1996 akan berakhir, pada umumnya banyak pencinta ramal-meramal yang sibuk membuat ramalan ekonomi Indonesia tahun depan. Apapun pendekatan yang akan dipakai, kita semua sepakat bahwa faktor eksternal akan berpengaruh. Bagaimana prospek faktor eksternal tersebut? Berikut ini uraian singkat hasil pertemuan penulis dengan tim Pacific Economic Outlook (PEO) di San Francisco minggu lalu (Desember 16-17). Secara khusus, pertemuan tersebut membahas prospek ekonomi AS, Jepang, Eropa dan harga komoditi termasuk minyak. Prof. J. Stiglitz, kepala tim penasihat ekonomi Presiden Clinton, yang tahun depan akan berganti jabatan menjadi kepala bidang ekonomi Bank Dunia, menjadi pembicara pertama.


Mulai menjadi kebiasaan di beberapa negara bahwa setiap analisis ekonomi makro, termasuk proyeksi ke depan, diikuti oleh hasil survei persepsi yang mencerminkan sentimen masyarakat. Harapannya, tentu saja ada kesamaan arah antara hasil studi ekonomi makro dengan hasil survei persepsi. Kebiasaan semacam ini sudah rutin dilakukan di negara maju, namun masih jarang dilakukan di negara berkembang. Bagi para politisi, hasil persepsi masyarakat sering lebih berpengaruh dibandingkan dengan analisis ekonomi makro berdasarkan data sekunder.


Bagaimana di AS? Hasil survei sentimen masyarakat AS menunjukkan bahwa selama tahun 1996 mereka cukup puas dengan keadaan ekonomi se-hari hari. Lapangan kerja baik, pendapatan juga dianggap cukup, dan harga (inflasi) rendah. Hasil studi ekonomi makro dari badan penasihat presiden juga sejalan dengan persepsi tersebut. Indeks indikator utama (leading indicators) naik terus setiap bulan, pesanan dari pabrik dan industri juga terus naik, dan tidak ada tanda tanda munculnya tekanan inflasi. Jadi, baik menurut survei persepsi maupun data ekonomi, kondisi ekonomi AS tahun 1996 memang menggembirakan. Kemenangan Clinton dalam pemilu yang lalu banyak dipengaruhi oleh faktor ini. Bagaimana dengan prospek tahun 1997? Tim peramal AS lebih optimis lagi. Pertumbuhan 2.3% tahun 1996 diperkirakan akan naik sedikit menjadi 2.6%, dan yang penting prospek ini tidak akan diikuti oleh tekanan inflasi (hanya sekitar 1.8%). Sebagai akibat, tingkat pengangguran akan turun sedikit menjadi 5.3%. Namun, indikator yang paling menggembirakan terjadi di sektor anggaran pemerintah. Sebenarnya, pada tahun 1995 defisit anggaran diukur sebagai rasio terhadap GDP sudah terendah sejak tahun 1980, yaitu 1.9%. Tahun depan prosentase tersebut diperkirakan turun lagi menjadi 1,4%, dan turun terus sampai sekitar 1% tahun 1999. Untuk ukuran ekonomi sebesar AS, angka tersebut sudah bisa dikatakan mencerminkan "anggaran berimbang". Jadi, ekonomi AS akan ditandai oleh kebijakan fiskal ketat dan kebijakan moneter yang netral.


Satu-satunya kabar yang kurang baik datang dari sektor perdagangan luar negeri. Selama tahun 1996 defisit neraca berjalan AS terus naik, baik secara absolut maupun relatif terhadap GDP. Tahun 1997 defisit tersebut masih tidak akan turun, tetap sekitar $190 milyar atau 2.5% dari GDP. Sementara itu, dengan inflasi yang cukup rendah, tidak akan ada alasan bagi bank sentral AS menaikkan tingkat bunga. Artinya, perbedaan tingkat bunga internasional dengan bunga di AS akan membesar. Dua gejala ini, yaitu defisit membesar dan perbedaan tingkat bunga yang juga membesar, akan memberi tekanan kebawah pada dolar (depresiasi).


Angin segar tahun 1996 juga datang dari Jepang. Melihat pertumbuhan sampai tahun 1995, yang mendekati 0% secara rata-rata, pertumbuhan 3.7% untuk tahun 1996 cukup "mencengangkan". Apakah resesi Jepang sudah berakhir? Memang demikian, tapi perlu diingat bahwa proses recovery masih akan lambat. Apa yang mendorong pertumbuhan tahun 1996? Sebagian besar karena investasi (7.7%) dan pengeluaran pemerintah (7,1%) melalui program stimulus pemerintah.


Namun, prospek Jepang tahun 1997 tidak secerah 1996. Pemerintah yang baru dipastikan akan menerapkan kenaikan pajak konsumsi (dari 3% menjadi 5%) dan PPN, termasuk untuk investasi di sektor perumahan. Padahal, sektor perumahan selalu menjadi indikator penting untuk melihat gejolak ekonomi Jepang. Menurut tim akhli Jepang, penurunan absolut akan terjadi di sektor ini (minus 7%), dan pertumbuhan konsumsi masyarakat juga akan melambat. Sebaliknya, kegiatan ekspor akan membaik dan pertumbuhan impor mengecil. Sebagai akibat, pertumbuhan ekonomi Jepang akan turun dari 3.7% menjadi 1.2% tahun 1997. Berita buruk dari sektor perbankan juga masih berlangsung. Karena harga properti masih terus turun (price destruction) nilai kredit macet juga masih akan terus bertambah.


Bagaimana mungkin ekspor Jepang membaik kalau dolar melemah (yen menguat)? Studi menunjukkan bahwa makin lama ekspor Jepang makin tidak elastis terhadap harga. Artinya, banyak ekspor Jepang yang merupakan impor negara negara Asia (mesin dan barang modal) tidak dapat disubstitusi dengan mudah oleh mesin impor lain, paling tidak dalam jangka pendek. Jadi, ketergantungan terhadap impor dari Jepang relatif tinggi. Tentang nilai tukar, pertanyaan yang selalu diajukan semua orang adalah: berapa kurs yang akan terjadi? Kalau keinginan pemerintah dan sektor bisnis di Jepang yang dijadikan ukuran, maka diperkirakan kurs tahun 1997 akan menguat sedikit sampai sekitar 110 yen/dolar.


Bagaimana kawasan Eropa? Semua tahu bahwa isyu terbesar saat ini menyangkut EMU (European Monetary Union). Dari perkiraan para pengamat, proses penyesuaian tiap negara agar bisa masuk kualifikasi EMU, akan berjalan lambat dan berat. Umumnya, 4 negara (Portugal, Italy, Greece dan Spain, atau "PIGS) selalu menjadi contoh yang "gagal". Namun, ternyata selama tahun 1996 Portugal sukses dengan kebijakan anggarannya. Justeru Perancis yang agak di luar dugaan mengalami kesulitan serius. Secara keseluruhan, proses penyesuaian dalam rangka kesepakatan "Maastricht" telah menarik turun pertumbuhan ekonomi Eropa secara keseluruhan menjadi hanya 1.5% pada tahun 1996.


Prospek tahun 1997 agak lebih baik. Kebijakan moneter rata-rata akan netral, kecuali mungkin di Inggris yang akan ketat (apalagi kalau partai buruh pimpinan Tony Blair menang), sedangkan kebijakan fiskal sudah jelas akan lebih ketat lagi dibandingkan dengan tahun 1996, karena proses akhir pembentukan EMU makin dekat.


Namun, berbeda dengan prediksi untuk AS dan Jepang, risiko salah untuk kasus Eropa relatif lebih besar. Mengapa? Disamping ketidak-pastian selama proses pembentukan EMU, banyak negara di kawasan Eropa yang akan menghadapi pemilu. Artinya, keputusan ekonomi dapat berubah total bila pemerintah baru muncul. Lihat saja referandum tentang EMU, yang selama ini tidak pernah bulat hasilnya. Ada perkiraan bahwa masyarakat di beberapa negara, termasuk Perancis, masih dapat merubah opini mereka untuk tidak meneruskan proses bergabung dengan EMU. Singkat kata, saat ini dan sampai tahun depan Eropa masih sibuk dengan urusan mereka sendiri. Namun, skenario untuk 1997 (2.4% untuk rata-rata EU) masih bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun 1996 (1.5%).


Untuk meramal ekonomi Indonesia, faktor eksternal lain yang juga penting adalah prospek harga minyak. Hasil studi tim akhli menunjukkan bahwa permintaan minyak tahun 1996 lebih tinggi dari dugaan semula, antara lain karena temperatur rata-rata selama musim dingin ternyata lebih rendah dari perkiraan semula. Statistik menunjukkan bahwa rendahnya suhu musim dingin telah menaikkan permintaan di AS sebanyak 17%, Eropa 14% dan Jepang 5%, dari perkiraan semula. Jadi, ada faktor permintaan yang mendorong kenaikan harga selama tahun 1996.


Bagaimana prospek tahun 1997, terutama dengan kembali mengalirnya minyak Irak? Para peniliti, termasuk dari perusahaan minyak Chevron di AS, berpendapat bahwa prospek harga akan "modest." Artinya, kalau turun tidak akan besar dan demikian pula kalau naik.


Terjemahannya: tidak akan banyak berbeda dengan tahun 1996.


Sementara itu, harga komoditas primer menguat selama dua tahun terakhir ini. Namun, tim Bank Dunia yang hadir dalam pertemuan memperkirakan bahwa mulai tahun 1997 harga cenderung turun, baik untuk produk pertanian maupun produk pertambangan.


Dengan perkataan lain, tidak ada angin segar yang dapat diharapkan dari sektor primer.


Bagi para pencinta ramal-meramal, mudah-mudahan gambaran faktor eksternal di atas dapat dipertimbangkan dalam membuat perkiraan ekonomi Indonesia tahun depan.

[Index]