|
Sekelompok ilmuwan yang mendalami masalah proyeksi ekonomi berkumpul di
gedung pusat PBB New York awal minggu ini. Proyeksi ekonomi tiap wilayah di
dunia disampaikan, dan secara umum ada kesepakatan (disamping banyak
ketidak-sepakatan) bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan sedikit lebih baik
dalam dua tahun mendatang. Meskipun angka pasti yang disepakati semua pihak
belum tercapai, namun semua setuju bahwa ekonomi dunia akan tumbuh di atas 3
persen baik tahun ini maupun tahun depan.
Perdebatan tentang kecenderungan perdagangan dunia tergolong paling menarik
dalam pertemuan tersebut, paling tidak karena dua hal: fluktuasi yang begitu
tajam dalam 5 tahun terkahir, dan perubahan nilai tukar (misalnya dolar AS
terhadap Yen) yang sulit diprediksi dengan tepat.
Kalau diamati selama 5 tahun terakhir, laju perdagangan dunia menunjukkan
kenaikan luar biasa (hampir 12 persen) pada tahun 1994. Tentu banyak yang
dapat diajukan sebagai faktor penyebab. Namun, kalau dilihat sumber
pertumbuhan berdasarkan tiap sektor, kecenderungan yang paling menonjol saat
itu adalah kenaikan perdagangan barang elektronik seperti komputer dan
komponennya, termasuk semi-konduktor, yang sangat luar biasa. Karena sektor
ini yang menonjol, maka apapun yang terjadi dengan sektor tersebut akan
otomatis mempengaruhi gambaran perdagangan dunia. Dan ini dibuktikan oleh
gambaran tahun lalu.
1996 tercatat sebagai tahun buruk bagi prestasi perdagangan dunia, karena
pertumbuhan yang dicapai hanya 5.7 persen (dihitung dari volume impor),
merosot dari 9.5 persen yang terjadi pada tahun sebelumnya. Salah satu
penyebab kemerosotan tersebut adalah kelesuan di sektor elektronik; jadi,
persis kebalikan dari apa yang terjadi tahun 1994!
Tentu saja penjelasan lain perlu diperhitungkan, seperti misalnya perubahan
nilai tukar. Sebenarnya tidak mudah melihat pengaruh nilai tukar terhadap
perdagangan dunia, karena tiap negara mempunyai komposisi negara tujuan
(untuk ekspor) dan negara asal (untuk impor) yang berbeda. Akibatnya, jenis
mata uang asing yang perlu diperhitungkan juga tidak sama. Namun, mengingat
dolar AS mempunyai pengaruh paling besar, pergerakan mata uang ini menjadi
faktor penentu perdagangan dunia.
Pada tahun 1994 nilai dolar merosot, baik terhadap Yen maupun DM (dua mata
uang lain yang juga paling berpengaruh dalam perdagangan dunia). Nilai Yen
mencapai 102 dan nilai DM sebesar 1,62 per satu dolar AS. Tahun sebelumnya,
nilai tersebut masing-masing 111,2 dan 1,65. Ternyata, dolar yang merosot
diikuti oleh membaiknya perdagangan dunia seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya.
Apakah keadaan sebaliknya akan terjadi kalau seandainya dolar menguat?
Berdasarkan perkembangan tahun lalu, jawabannya: ya! Para pedagang valas
masih ingat benar bagaimana tahun lalu nilai dolar menguat sampai ke tingkat
yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Nilai Yen melemah dari 94 ke 109, dan
nilai DM juga melemah dari 1,4 menjadi 1,5 terhadap dolar AS. Bukan
kebetulan kalau prestasi perdagangan dunia juga buruk tahun lalu.
Bagaimana kaitan cerita di atas dengan wilayah Asia Pasifik termasuk ASEAN,
dan Indonesia? Di wilayah ini jelas kurs Yen terhadap dolar lebih
menentukan. Jadi, pergerakan kurs tersebut dapat dipakai sebagai salah satu
determinan dalam membuat perkiraan volume perdagangan. Yen yang lemah
memperbaiki daya saing eksportir Jepang vis-a-vis eksportir negara lain,
termasuk negara di kawasan Asia Pasifik. Bagi negara yang mengekspor produk
serupa (kompetitif) dengan ekspor Jepang, ini kabar buruk, karena mereka
cenderung kalah bersaing dengan eksportir Jepang.
Apakah kenyataannya demikian? Ternyata memang prestasi ekspor banyak negara
di Asia Pasifik memburuk tahun lalu, sehingga kepanikan karena kenaikan
defisit neraca berjalan kita dengar di mana mana: dari Thailand, Malaysia
sampai ke Indonesia, meskipun sebenarnya bagi Indonesia pukulan di sektor
ekspor tidak karena Yen yang menguat tapi lebih karena faktor domestik.
Mungkin pengaruh melemahnya Yen bagi Indonesia lebih banyak berupa
pengurangan arus investasi Jepang yang dapat diharapkan. Kalau gejala kurs
yang sekarang bersifat sementara, maka praktis kekuatiran tersebut tidak
terlalu perlu dipikirkan, karena keputusan investasi lebih bersifat jangka
panjang, tidak seperti keputusan mengekspor. Sebaliknya, keuntungan bagi
kita jelas terjadi dalam bentuk pengurangan nilai dan pembayaran bunga
hutang luar negeri. Pertanyaannya, apakah benar gejala kurs Yen/dolar yang
sekarang bersifat hanya sementara?
Banyak yang ingin mengetahui bagaimana kecenderungan Yen/dolar tahun ini dan
tahun depan. Pertanyaan ini tidak hanya penting untuk membuat perkiraan
volume perdagangan, jadi juga pertumbuhan ekonomi, tapi juga, dengan sangat
disesalkan, sering dimanfaatkan oleh pemain valas yang suka berspekulasi
untuk memperoleh keuntungan mendadak (windfall profit).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kurs Yen/dolar. Salah satu
faktor adalah posisi neraca perdagangan AS (defisit) dan Jepang (surplus).
Kalau diamati defisit perdagangan AS selama dua kuartal tahun lalu, yaitu
kuartal 1 dan kuartal 4, ternyata defisit mereka menurun tajam. Lebih
menarik lagi, penurunan tersebut terjadi dimuka kenaikan impor, karena
kuatnya permintaan domestik. Jadi, prestasi ekspor AS relatif bagus. Mungkin
karena faktor ini kongres dan pembuat kebijakan di AS enggan melakukan
intervensi terhadap kecenderungan dolar yang menguat.
Dalam 4 tahun terakhir ekonomi AS memang cukup stabil, dan bahkan dalam 2
tahun terakhir mencapai kondisi yang oleh para ekonom sering dianggap
"ideal," yaitu pertumbuhan relatif tinggi, tingkat pengangguran turun, dan
inflasi rendah. Kenaikan tingkat bunga 0.25 persen yang diumumkan Federal
Reserves minggu inipun tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi mereka menurun
tajam. Sebaliknya, ekonomi Jepang tidak mampu secara meyakinkan bangkit dari
resesi, dan bahkan pertumbuhan tahun ini diperkirakan akan lebih buruk lagi
karena mulai bulan depan (April) pajak konsumsi akan dinaikkan. Jadi, ada
semacam pembentukan opini bahwa ekonomi yang kuat harus mempunyai mata uang
yang juga kuat, dan demikian sebaliknya. Sebenarnya banyak faktor selain
nilai tukar yang mempengaruhi kinerja perdagangan AS, termasuk perbaikan
produktivitas, dan kurang relevan menilai "kekuatan" ekonomi hanya dalam
suatu kurun-waktu yang relatif pendek.
Memang benar bahwa ekonomi AS diperkirakan masih akan baik dalam dua tahun
mendatang, meskipun angka pertumbuhan GDP tahun ini akan sedikit turun.
Proyeksi semacam ini mengasumsikan bahwa kenaikan tingkat bunga minggu ini
bukan merupakan awal dari seri kenaikan yang akan berlangsung terus dalam
bulan bulan mendatang. Juga benar bahwa ekonomi Jepang masih akan mengalami
kesulitan dalam dua tahun mendatang. Namun, nilai kurs Yen/dolar seperti
saat ini sudah "di luar" batas yang sering dianggap ekuilibrium (seimbang).
Umumnya, semua ahli yang hadir dalam pertemuan di PBB minggu ini sepakat
bahwa nilai ekuilibrium adalah antara 110 dan 120 untuk Yen/dollar. Bahkan,
penerima hadiah Nobel, Lawrence Klein, yang juga hadir dalam pertemuan di
New York tersebut menyatakan secara pribadi kepada saya bahwa dengan kurs
separti sekarang posisi neraca pembayaran AS akan kritis. Dia memperkirakan
bahwa neraca perdagangan AS akan memburuk tahun ini. Waktu saya cek dengan
angka kuartal pertama (dengan catatan bulan Maret belum berakhir), ternyata
defisit perdagangan AS memang sudah memburuk. Jadi, dugaan Klein tepat.
Dari gambaran di atas saya cenderung memperkirakan bahwa kurs Yen/dolar akan
bergerak kembali ke posisi yang lebih ekuilibrium tahun ini dan tahun depan.
Angka perkiraan rata-rata untuk 1997 saya perkirakan sekitar 115 Yen/dolar.
Professor Klein bahkan "berani" mengajukan angka antara 117-120. Dengan
perkiraan ini, tidak terlalu salah kalau kita perkirakan bahwa dibandingkan
dengan tahun lalu dalam dua tahun mendatang perdagangan dunia akan lebih
baik.
[Index]
|