| Sudah banyak
sekali analisis tentang gejolak kurs di Asia
Tenggara. Walaupun tidak semua, namun saya
mendapat kesan bahwa sebagian besar analisis
tersebut tidak memperjelas proses yang terjadi,
bersifat spekulatif, dan bahkan ada yang
mengkaitkannya dengan perlunya pembenahan sektor
riel.Namun, bagi saya yang paling meleset adalah
analisis yang menyimpulkan bahwa "peristiwa
gejolak kurs baru baru ini membuktikan bahwa
kondisi fundamentalekonomi tidak lagi menjadi
faktor penting." Ini nonsense! Lalu
ada juga yang mengkaitkan gejolak kurs dengan
kecanggihan teknologi dipasar uang dan modal,
dimana pembelian suatu mata uang dapat dilakukan
lebih cepat dibandingkan dengan situasi beberapa
tahun lalu. Sebenarnya, dari dulu sampai sekarang
tidak ada perbedaan. Teknologi mempercepat
pembelian matauang antar-negara tidak banyak
berubah dalam 10 tahun terakhir. Dulu sudah
mudah, sekarang juga mudah. Jadi, bukan itu
persoalannya.
Keterbelakangan
dan bottleneck di sektor riel memang penting, dan
selalu penting dalam 10 atau 20 tahun terakhir.
Tetapi, mengarahkan target penyebab serangan
terhadap rupiah pada sektor riel kurang tepat.
Kalau memang keterbelakangan sektor riel yang
menjadi penyebab, mengapa peristiwa serangan
terhadap rupiah tidak terjadi tahun lalu atau dua
tahun lalu? Mengapa justeru otoritas moneter kita
waktu itu dibuat pusing mengatasi keadaan yang
sebaliknya, yaitu derasnya arus modal masuk yang
mengakibatkan rupiah menguat (apresiasi)?
Bukankah bottleneck di sektor riel tahun lalu
atau dua tahun lalu tidak lebih kecil dari
sekarang?
Semua tahu bahwa
penurunan nilai rupiah berkaitan dengan penurunan
pasok dolar, antara lain karena permintaan
terhadap dolar melonjak. Namun, yang menjadi
pertanyaan dan masih belum jelas jawabannya,
siapa yang membeli dolar itu, dan apa motif
dasarnya? Dari peristiwa yang saya baca dan
dengar sampai hari ini, nampaknya ada dua tahap
peristiwa, sebut saja tahap 1 dan tahap 2.
Pada tahap 1,
yaitu bermula sejak Juli bersejarah sampai
sekitar awal Agustus lalu, ada beberapa
kemungkinan. Spekulator, baik asing maupun
domestik, bisa menjadi pelaku utama, tapi motif
mencari untung tetap dominan. Tuduhan PM Malaysia
Mahatir terhadap satu orang spekulator asing, G.
Soros, sebagai salah satu pelaku (pembeli) memang
benar, karena Soros sendiri sudah mengakuinya.
Tapi, menuduh bahwa dia mempunyai motif politik
saya pikir terlalu berlebihan.
Kemungkinan
pelaku lain adalah dunia usaha sendiri (termasuk
bank) yang juga tergiur untuk memanfaatkan
kesempatan memperoleh keuntungan. Sebenarnya ada
dua jenis dalam kelompok ini. Pertama, mereka
yang sekedar ingin memanfaatkan untuk keuntungan,
jadi sami mawon dengan spekulator.
Jenis kedua
berkaitan dengan tahap 2, yaitu mereka yang benar
benar membutuhkan dolar, karena kalau tidak
membeli sekarang posisi hutang (dalam dolar)
mereka makin sulit terbayar mengingat nilai
rupiah yang diperlukan akan makin besar.
Saya pribadi
beranggapan bahwa sejak awal Agustus sampai
sekarang (tahap 2), kelompok terakhir ini yang
membeli dolar paling banyak. Mengapa? Harus
diakui bahwa meskipun tingkat bunga sudah turun
dibandingkan awal tahun 1990an (masa tight money
policy, TMP), tingkat bunga dalam negeri masih
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bunga di
luar negeri. Disamping itu, dalam dua tahun
terakhir kecenderungan tingkat bunga luar negeri
turun, mengingat ekonomi AS cukup baik (tidak ada
kekuatiran inflasi) dengan tingkat bunga yang
rendah seperti sekarang. Jadi, masuk akal kalau
banyak pengusaha kita yang mencari pinjaman di
luar negeri. Ini lebih dimungkinkan lagi karena
kredibilitas Indonesia cukup baik, antara lain
karena kondisi ekonomi makro yang stabil.
Hutang swasta
semacam ini tidak ada masalah asal jadwal dan
kemampuan membayarnya juga terjamin. Nah,
disinilah letak persoalannya. Karena
kecenderungan rupiah makin melemah, terutama
karena semua pihak termasuk laporan Bank Dunia
pre-CGI memperkirakan bahwa defisit transaksi
berjalan (DTB) akan makin besar, maka banyak
pihak swasta mulai pasang kuda kuda sebelum
pembayaran hutang luar negeri mereka jatuh tempo.
Caranya? Beli saja dolar sekarang karena makin
besar DTB, seperti yang diperkirakan dan
didengungkan semua pihak, makin merosot nilai
rupiah, yang berarti makin banyak rupiah yang
harus disediakan untuk membayar hutang mereka
(dalam dolar). Dengan perkataan lain, swasta
ingin memperkecil risiko. Ini samasekali tidak
dapat digolongkan sebagai tindakan spekulasi.
Tinggal satu
pertanyaan tersisa: sebelum mereka memborong
dolar untuk mengurangi risiko (tahap 2), apa yang
menyebabkan nilai rupiah merosot di tahap 1?
Disini, faktor standar tetap berlaku, dan faktor
fundamental ekonomi masih mempunyai peran utama.
Setiap ada kecenderungan DTB membesar, tekanan
terhadap rupiah selalu muncul. Ini konsep dasar
dalam ilmu ekonomi, dan secara empiris terbukti.
Contoh yang paling sering dijadikan acuan adalah
kasus ketidak-seimbangan perdagangan antara
Jepang dan AS. Kalau defisit AS cenderung naik,
tekanan untuk memperlemah dolar (vis-a-visYen)
selalu muncul.
Seperti yang
disinggung sebelumnya, kita semua tahu bahwa DTB
kita memang membesar dan semua memperkirakan DTB
akan lebih besar lagi di tahun tahun mendatang.
Jadi, wajar dan sangat sesuai dengan prediksi
teori ekonomi bahwa dalam situasi semacam itu
nilai rupiah akan turun.
Namun, nilai
penurunan rupiah sejak Juli bersejarah tersebut
ternyata lebih besar dari dugaan. Jadi, pasti ada
faktor lain yang makin memperkuat (reinforce)
proses melemahnya nilai rupiah. Disinilah muncul
faktor contagion effect, yaitu penularan gejala
dari negara tetangga, terutama Thailand. Perlu
disadari bahwa dampak "penyatuan"
ekonomi ASEAN (melalui AFTA) dan Asia Pasifik
(melalui APEC) tidak hanya melulu bersifat
positif seperti yang sudah berkali kali
didengungkan dan dianalisis. Analisis semacam itu
memang tepat. Namun, proses dampak negatif juga
bisa berlangsung, dan ini sangat jarang disebut.
Kalau satu anggauta keluarga maju, yang lain ikut
menikmati. Namun, satu anggauta keluarga sakit,
yang lain juga ikut tertular. Itulah sebabnya
semua negara ingin turut membantu keluarga yang
sakit (Thailand) agar cepat sembuh dan tidak
menularkan penyakitnya. Indonesia sendiri ikut
menyumbang setengah milyar dolar.
Pada akhirnya,
tetap dua faktor utama yang dapat berpengaruh
pada nilai suatu mata uang: kondisi fundamental
ekonomi dan sentimen pasar yang disebabkan oleh
faktor lain termasuk keadaan politik. Dari sudut
kebijakan ekonomi, tidak banyak yang bisa
dilakukan untuk mengkontrol faktor kedua. Di lain
pihak, kalau faktor pertama mulai ikut goyang,
maka tekanan terhadap mata uang lokal akan makin
diperkuat (reinforced). Bagi Indonesia sekarang,
otoritas keuangan diharapkan terus berusaha
mempertahankan kondisi fundamental ekonomi
(pertumbuhan tinggi, inflasi terkontrol, DTB
turun). Salah besar kalau kita beranggapan bahwa
kondisi fundamental ekonomi sudah tidak lagi
berperan.
Saya berpendapat
bahwa pemerintah harus hati hati bermain dengan
kebijakan moneter dalam saat saat seperti ini.
Kalau tingkat bunga dimainkan (dinaikkan) terlalu
banyak dan terlalu lama, dengan harapan dapat
mempertahankan nilai rupiah, maka dampak negatif
akan muncul: investasi turun dan pertumbuhan
ekonomi rendah. Sindrom Thailand akan menjadi
kenyataan. Artinya, kondisi fundamental ekonomi
mulai goyang.
Jadi, saya
sejalan dengan pendapat beberapa pengusaha yang
khawatir dengan tingkat bunga yang terus
dimainkan (dinaikkan). Mungkin motif kekuatiran
saya yang berbeda dengan mereka; karena saya
bukan pengusaha.
[Index]
|