OPEC: Tidak Seloyo Dulu Lagi

Oleh : Adi Harsono
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia



            Belum pernah anggota-anggota OPEC demikian kompak dan patuh terhadap keputusan bersama 11 bulan yang lalu. Sekali lagi OPEC menunjukkan kepada dunia bahwa mereka dapat melakukan sesuatu untuk mempengaruhi harga minyak mentah demi kepentingan negara anggota bersama. Tapi bisakah harga minyak mentah turun tahun 2000 ini? Tindakan apa yang akan dilakukan oleh negara-negara komsumen terutama Amerika?

           P emotongan produksi minyak mentah oleh anggota OPEC telah mengakibatkan naiknya harga minyak secara tajam sejak 10 bulan yang lalu. Kenaikan yang hampir mencapai 3 kali tersebut ternyata tidak membuat perusahaan minyak terangsang menaikkan produksi. Kali ini mereka bersikap sangat hati-hati dibandingkan masa-masa lalu, apalagi para pakar ekonomi dan enerji belum apa-apa sudah memberikan wanti-wanti bahwa harga minyak akan segera menurun setelah musim dingin ini. Alasan lain adalah pengalaman pahit 18 bulan yang lalu dengan jatuhnya harga minyak memaksa industri minyak melakukan pengurangan anggaran dan pegawai secara besar-besaran. Efisiensi juga dilakukan dengan melakukan merger besar-beasran. Pembenahan perusahaan setelah merger masih mewarnai kegiatan sehari-hari sehingga sampai saat ini banyak pimpinan perusahaan minyak besar masih sibuk memfokuskan diri pada masalah inter-nal dibandingkan masalah produksi. Oleh sebab itu tidak banyak harapan kegiatan baru dalam eksplorasi dan produksi minyak akan meningkat sampai pertangahan tahun 2000 ini.

Kenaikan harga minyak yang terus menerus akan berakibat buruk pada perkembangan ekonomi negara-negara maju. Tanda-tandanya adalah tingkat inflasi yang mulai naik di negara-negara Eropa karena harga BBM yang terus meningkat. Dan bila harga tidak juga turun, maka diperkirakan dalam waktu 3 sampai dengan 6 bulan inflasi tinggi akan melanda ekonomi Amerika juga. Pemerintah Amerika mendapatkan tekanan besar dari komsumen enerji dalam negeri, biaya transportasi dan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai meningkat tinggi. Perlu diingat bahwa tahun 2000 adalah tahun pemilihan presiden Amerika, oleh sebab itu secara politik para politikus Gedung Putih dipaksa untuk segera mengambil tindakan nyata untuk mengambil hati para pemilihnya, kalau ingin partainya menang dalam pemilu yang akan datang.

Tindakan apa yang kira-kira akan diambil oleh pemerintah Amerika? Salah satu proposal yang sedang ramai dibicarakan adalah melepaskan cadangan minyak strategi nasional SPR-Strategic Petroleum Reserve yang berjumlah sekitar 580 juta barel yang disimpan di reservoir bawah tanah negara bagian Texas dan Lousiana. Pro-posal tersebut tidak menganjurkan minyak cadangan tersebut dijual ke pasar bebas untuk menurunkan harga, akan tetapi dimaksudkan untuk dikomsumsikan langsung oleh perusahaan produksi BBM Amerika dengan sifat kontrak tukar-tambah. Misalnya Exxon-Mobil bisa pinjam dulu minyak dari SPR, nantinya dikembalikan dalam bentuk minyak juga tapi ditambah bonus. Bonus ini diperlukan karena diharapkan pada saat Exxon-Mobil mengembalikan pinjamannya harga minyak sudah mulai turun.

Strategi tukar-tambah tersebut lebih mudah mendapat persetujuan Senat dan rakyat Amerika, karena minyak cadangan strategi tersebut adalah milik negara untuk kebutuhan cadangan dalam keadaan darurat. Rakyat Amerika akan sulit menyetujui tindakan pemerintahnya bila minyak negara dijual di pasar bebas.

Akan tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian para pengamat enerji, adalah siapa yang dapat menjamin bahwa cadangan minyak mentah SPR sebesar 580 juta barel itu masih utuh tersimpan di batuan reservoir bawah tanah Texas dan Lousiana? Sebagus dan serapat apapun resevoir alamiah di Texas dan Lousiana itu, belum dapat menjamin bahwa minyak mentah yang dipompa masuk dan disimpan puluhan tahun yang lalu di sana masih utuh. Bukankah secara ilmu kebumian suatu gempa bumi bawah tanah lokal dan perubahan dinamis struktur lapisan batuan di bawah tanah dapat membuat rekahan dan reservoir tempat minyak disimpan itu 'bocor'? Jangan-jangan saat diperlukan, minyak simpanan itu sudah 'pindah tempat' atau hilang ditelan bumi? Bila hal ini benar-benar terjadi, betapa besar dampaknya terhadap ekonomi dan politik Amerika.

Secara global produksi minyak mentah menurun sebanyak 1.24 juta barel per hari tahun lalu mencapai 64.8 juta barel, padahal komsumsi tumbuh sebanyak 1.17 juta barel per hari mencapai rekor 75.26 juta tahun lalu.

Menurut studi Energy Information Ad-ministration yang dipublikasikan baru-baru ini, dalam jangka pendek permintaan minyak mentah dunia akan terus bertambah sebanyak sekitar 1.2 juta barel per hari tahun ini (naik 2.6% dibanding 1999), dan pada tahun 2001 nanti permintaan akan bertambah sekitar 1.9 juta barel per hari (atau naik 59%!). Ini sesuai dengan prediksi bahwa krisis ekonomi Asia telah berakhir dan pemintaan enerji di Asia akan bertambah pesat sekali.

Dalam pertemuan OPEC bulan Maret nanti diharapkan akan tercapai persetujuan untuk menaikkan produksi OPEC sebesar 1.7 s/d 2 juta barel. Para produsen minyak OPEC sebetulnya lebih menginginkan harga minyak moderat yang stabil sehingga mereka bisa merancang rencana yang bersifat jangka panjang. Harga yang moderat adalah sekitar $ 20-an per barel, berdasarkan biaya produksi dan dinamika pasar saat ini.

Bila OPEC dalam pertemuan bulan Maret yang akan datang masih menolak menaikkan produksi dan perusahaan minyak raksasa masih saja memprioritaskan restrukturisasi sambil menikmati harga minyak yang tinggi, maka perkembangan harga minyak mentah tahun ini akan tetap tinggi. Apalagi musim panas segera tiba di negara-negara maju di mana komsumsi bahan bakar akan meningkat. Sehingga keputusan apapun yang diambil OPEC bulan Maret yang akan datang belum tentu akan menstabilkan harga minyak.

Keunikkan kenaikan harga minyak luar biasa kali ini sebetulnya adalah gejala normal sesuai dengan hukum pasar. Tidak seperti krisis minyak pada masa lalu yang lebih diwarnai oleh intervensi politik dan perang wilayah Timur Tengah. Minyak yang dulu diperlakukan istimewa karena merupakan sumber energi kehidupan lama kelamaan kehilangan pamornya. Lihat saja di lantai-lantai bursa efek dunia, harga saham perusahaan yang terkait dengan industri minyak tidak lagi menjadi primadona, kalah dibandingkan saham-saham teknologi informasi. Harga minyak mentah boleh saja naik 3x lipat sejak 11 bulan yang lalu, tetapi harga saham perusahaan terkait tidak banyak berubah, bahkan cenderung melemah. Ini membuktikan bahwa minyak sudah merupakan barang komoditi biasa dan tidak istimewa lagi, yang harus mengikuti hukum ekonomi dan aturan pasar. Dan OPEC sebagai kartel terbesar produsen minyak dunia boleh bangga bahwa mereka sebetulnya bisa dan mampu melakukan sesuatu untuk kepentingan mereka bila mereka sungguh-sungguh menginginkannya. (AH)