Back to Shanghai

Sebuah Catatan Perjalanan
Oleh : Adi Harsono
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia



Kembali lagi ke kota Shanghai, ini sudah ke-tiga kalinya. Penerbangan dari Beijing sangat mulus dengan pesawat Boeing 747-400 yang lebar dan nyaman. Hanya makanan di dalam pesawat termasuk 'seenaknya' saja. Saya hanya bisa telan satu roti saja, dan terpaksa minta bir karena jus jeruk dan coca colanya manis sekali, jangan-jangan dicampur ajinomoto...

Di Bandara lama Hong-Qiao Shanghai (nanti bulan Maret/April semua akan pindah ke Bandara Baru Pudong, 45 km jauhnya). Suhu udara mendekati titik beku di musim dingin paling parah (?) dalam sejarah moderen Shanghai. Yang antri taksi tidak tampak kepala dan ujungnya. Ada calo taksi gelap tanya, mau ke mana? Saya bilang Hotel Yang Tze. Dia tidak tertarik, karena terlalu dekat. Lalu kalau ikut antri begitu panjang, bisa 2 jam baru dapat taksi. Eh, ada saja orang baik, dia bilang kalau mau cepat antri saja di bagian taksi jarak-pendek. Di mana? Jalan ke depan 30 meter, lihat rambunya. Benar juga, rambunya tidak bersahabat. Ditulis huruf latin TAXI saja, dan di bawahnya dalam huruf kanji yang bunyinya 'Taksi Jarak Pendek'. Kalau buta bahasa Mandarin, tidak bakal temukan stan taxi yang demikian longgarnya. Berdiri 5 menit sudah dapatkan taksi. Banyak orang Bule kecele, ikut antri panjang, akhirnya sudah susah payah sampai ke depan, malah ditolak dan disuruh antri ke Stan Taksi Jarak Pendek. Mau mengumpat protes silakan, malah dibilang buta huruf...Bah..inilah Shanghai.

Saya selalu tanya, perasaan apa yang didapat untuk pertama kali tiba di kota baru? Perasaan ini perlu diungkapkan, ditangkap dan dilestarikan, kalau tidak lama-lama jadi pudar karena terbiasa dan mulai sibuk dengan suasana dan lingkungan baru (seperti proses saat pacaran sampai sudah beranak...). Taksi dari bandara adalah tempat yang paling cocok untuk melamun sambil mencari perasaan ini. Apa bedanya kota ini dengan kota lain? Mengapa perasaan saya terhadap kota Shanghai demikian akrabnya, misalnya? Ternyata, dibanding kota Beijing, Shanghai lebih mirip kota Jakarta. Jalan layangnya dibuat menembus gedung-gedung tinggi, tidak lebar, hanya 2 + 2 jalur. Taksinya lebih bersih dan teratur. Gedung-gedungnya rapat dengan jalan raya. Toko-tokonya juga mirip-mirip di Kota atau Glodok. Ada pusat kegiatan olah raga seperti Senayan yang disebut People Park. Dan seperti Jakarta, tidak banyak tempat yang bernilai sejarah tinggi (okelah ada deretan gedung tua sisa kolonial awal abad ke-20, that's about all), kota yang cepat berubah dan dinamis. Di Shanghai juga ada Bursa Efek dan banyak bank asing. Sedangkan kota Beijing, seperti kota Museum saja. Nilai sejarah dan politiknya lebih menonjol. Bursa Efek? kapan buka?.

Tujuan utama kali ini ke Shanghai adalah mengikuti makan malam merayakan Tahun Baru Naga yang diadakan oleh kantor pemasaran di Shanghai. Tidak besar kantor kita, hanya ada sekitar 40 orang. Karena ini acara perayaan Tahun Baru, anggota keluarga boleh dibawa, untungnya di China berlaku KB yang ketat, jadi tiap keluarga hanya ada satu anak yang dibawa. (guess what, Anak-anak yang dibawa semuanya perempuan !!...berusia antara 2 s/d 10 tahun). Makan malam diadakan di rumah makan lokal (Siao Nang Guo - Little Country in the South-nama yang indah !). Rumah (tepatnya gedung !) makannya luar biasa besarnya, ada 5 tingkat (!!) dan dibagi dalam ruang-ruang pribadi yang bisa dibatasi sekat-sekat. Dekorasinya mewah dan bagus, hanya bau udara di ruang tunggu kurang sedap, entah karena bau masakan, bau akuarium ikan atau bau orang Shanghai yang belum mandi. Saya kira satu gedung itu bisa muat 5,000 orang. Katanya ini baru satu dari 5 rumah makan yang mereka miliki. Makanannya agak aneh, ada daging ular, kulit ular, ayam mabuk, kembang lotus isi daging, ikan teri, dan banyak lagi yang merupakan pengalaman pertama buat saya. Untuk sopan satun, saya cicipi semuanya dengan menelan tanpa lewat proses indra hidung. Dan seperti pesta tahun baru di mana saja, makanannya kebanyakan, ada 24 jenis makanan, banyak sisanya dan wasted... Ini negara mulai kaya, Bung !

Setelah makan, rombongan dibagi 3, ada yang mau bowling, ada yang mau karaoke dan ada yang mau mandi. Mandi ?? Rame-rame di tengah malam ??. Ya, kedengarannya aneh, mandi di luar rumah rupanya adalah suatu kegiatan keluarga. Katanya di Shanghai ada banyak tempat yang menyediakan ruang makan, olah raga dan sekaligus ruang mandi, buka 24 jam. Prosesnya begini, sewa satu kamar mandi, ganti baju dengan baju handuk, makan di ruang makan, main bowling lalu mandi...Saya bayangkan orang-orang main bowling dengan pakaian mandi, tanpa alas kaki...Mungkin rumah orang Shanghai kecil-kecil, banyak yang tidak mempunyai tempat mandi di rumah, apalagi banyak rumah lama/kuno tidak mempunyai fasilitas pemanas atau air panas. Sebelum bubar, manajer kantor Shanghai keluarkan satu gepok uang lembaran 100 yuan diberikan kepada pimpinan rombongan. Wah, jadi malam ini kita bisa foya-foya, karena semua ditanggung perusahaan, asyik juga.. (Apa ini termasuk yang namanya ang-pao??).

Rombongan saya ber 14 rame-rame ke Jalan Hen-Shang. Ini jalan seperti di Kemang, penuh dengan bar/karaoke, cafe, tea-house dan rumah makan. Tapi beda dengan Kemang, jalan-jalan Hen-Shang luas dan lurus-lurus, terang benderang, bersih dan penuh dengan pohon yang ditanam berjarak sama. Orang-orang berpakaian sopan tapi ada satu dua yang nyentrik juga. Karena musim dinigin pohon-pohonya (maple trees) gundul, tapi saya bisa bayangkan pada musim panas dan musim gugur nanti, daerah ini pasti rindang dan indah sekali. Toko dan bangunan komersialnya rendah, dibuat rapi dan apik. Mirip jalan-jalan di kota kecil Eropa cuma lebih moderen dan ramai sekali (katanya Shanghai berpenduduk tetap 14 juta jiwa !!). Kita ke Disco Real Love. Sekali lagi saya geleng-geleng kepala, aneh sekali ijin hiburan di kota Shanghai ini. Gedung ini resminya diskotik, tapi lantai bawah adalah tempat main bowling, ramai dengan keluarga biasa penuh dengan tawa riang anak-anak main bowling. Lantai dua ruang disco yang gegap gempita dan berasap tebal, Tea House dan Karaoke-KTV. Lantai 3 adalah bowling lagi dicampur permainan games. Agak sulit dimengerti mengapa ada pusat hiburan yang campur aduk begini. Apa dampaknya terhadap anak-anak ? Ataukah kita yang selama ini terlalu negatif terhadap karaoke dan diskotik ?

Rombongan masuk ruang diskotik, karcis masuk satu orang 50 Yuan ($ 6) termasuk satu gelas minum apa saja. Jum'at malam, ruang diskotik penuh sesak, hampir 99% orang lokal. Satu dua orang Barat. Saya heran berapa banyak uang yang dihamburkan malam itu, botol coca cola, bir dan segala cairan buatan manusia dibuka terus menerus, berpindah tangan, minuman keras wisky dan alkohol berat mengalir tak hentinya...Bila diperhatikan dengan cermat, manusia lokal yang lagi menikmati suasana di diskotik ini tidak ada yang bertampang preman, gadis-gadis tidak berpoles atau berbau aneh-aneh, yang pria berjas, dasi atau baju lengan panjang. Tidak ada baju kaos dengan tulisan seronok, tidak nampak manusia gedeg-gedeg di bawah pengaruh obat. Tidak ada yang agresif atau mencari mangsa. Suasana riang dan manusia Shanghai asyik berjingkrat-jingkrat mengikuti irama musik. Ini sungguh di luar dugaan banyak orang mengenai masyarakat yang masih kental dengan ideologi sosialis. Uang begitu mudah saja dibelanjakan dan terkesan sangat foya-foya.

Kita tunggu giliran kamar karaoke di Real Love sampai dengan jam 12 malam tidak dapat kesempatan, lalu pindah ke rumah karaoke lainya, namanya Cashbox. Ini rumah karaoke seperti hotel, dari luar memang seperti hotel mewah, terang benderang. Letaknya persis di dalam taman kota yang indah. Ada 3 tingkat. Di dalamnya banyak kamar, tiap kamar disewakan, bisa menampung antara 6 sampai dengan 15 orang dengan perangkat karaoke yang dikendalikan dari komputer PC. Tinggal pencet-pencet nomor membuat daftar lagu pilihan. Jenis lagu dari lagu revolusi komunis sampai dengan lagu pop terbaru. Lagu apa saja ada termasuk lagu-lagu Indonesia seperti Bintang Kecil atau Lihat Kebunku. Belum pernah saya lihat gedung karaoke yang demikian megah, mewah, sopan dan lengkapnya jenis lagu yang tersedia. Kata teman kantor, ini masih termasuk ukuran sedang di Shanghai...what ?!.

Saya hitung, kamar karaoke gedung itu paling sedikit ada ratusan kamar. Hampir semuanya terisi, dan buka 24 jam. Karena kita ber 14, jadi sampai jam 5 pagi baru selesai nyanyi, suara sudah serak... Kita habiskan U$$ 180 untuk minum, makan bubur ayam dan sewa ruangan (hitung-hitung tidak mahal untuk 14 orang !). Repotnya boss saya, sudah kehilangan kendali, entah berapa botol minuman keras yang dihabiskan. Kata-katanya sudah menjadi tidak jelas. Lebih parah lagi, malah muntah-muntah di terpaksa saya harus ganti rugi ke sopir taksi daripada disuruh membersihkan taksinya di pagi yang membeku. Itulah catatan lepas perjalanan kami, dibilang lepas karena apa adanya, foto-foto juga eksperimen kamera digital semoga tidak ada yang bosan membacanya. . .nanti disambung lagi kalau ada hal-hal baru...(AH)