globe  

   
 

Wakil Indonesia di Imagine Cup Ditantang Softskill
Ardhi Suryadhi - detikInet Jakarta, Software buatan mahasiswa Indonesia yang ikut dalam Imagine Cup Dunia yang berlangsung di Korea Selatan diyakini tidak kalah dengan software buatan peserta dari negara lain. Kemampuan softskill juga dianggap menjadi faktor yang menentukan.

Hal itu diungkapkan Irving Hutagalung, Manager Technical Architecture dan Framework Jatis Solutions, yang juga didapuk sebagai salah satu juri dalam Imagine Cup Indonesia.

Irving menuturkan, kemampuan softskill yang dimaksud adalah penggunaan bahasa Inggris yang baik. Tujuannya adalah untuk menyampaikan bahan presentasi sehingga para juri dapat memahami hal-hal teknis yang ingin disampaikan.

"Skill kita nggak kalah, softskill kita yang masih kurang seperti untuk kemampuan bahasa Inggris. Selain itu yang dicari perusahaan bukanlah kemampuan TI semata, tetapi drive untuk maju yang juga penting," ujarnya kepada wartawan di kafe Tea Addict, Jakarta, Senin petang (2/6/2007).

Hal senada juga dikatakan Zeddy Iskandar, Academic Developer Evangelist Microsoft Indonesia, salah satu panitia penyelenggara Imagine Cup Indonesia. Menurutnya, sebagian besar peserta yang mengikuti seleksi di Indonesia agak kesulitan ketika melakukan presentasi software buatannya dalam bahasa Inggris.

Dilihat juga dari pengalaman wakil Indonesia pada Imagine Cup dunia tahun lalu di India yang lebih fokus pada demo software yang dibuatnya, sehingga tidak menyangka jika diminta untuk melakukan presentasi oleh para juri, imbuhnya.

"Maka dari itu dari seleksi yang kita adakan di sini (Indonesia-red) dibuat sama seperti yang akan diadakan di tingkat dunia, agar pemenangnya nanti menjadi terbiasa," tukas Zeddy.

Peluang Indonesia

Wakil Indonesia pada Imagine Cup dunia yang berlangsung 6 sampai 11 Agustus di Korea Selatan nanti untuk kategori software design adalah tim Aksara dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tim ini beranggotakan 4 orang yakni Desi Hadiati, Budiono, Riza Ramadan serta Mohammad Octamanullah. Mereka membuat software buta huruf bernama 'ABC' untuk bertarung dengan peserta lain dari 59 negara di seluruh dunia dalam tema 'Teknologi yang Membuat Pendidikan Lebih Baik'.

Untuk mempersiapakan tim Aksara ke Korea, kabarnya staf khusus Menristek Richard Mengko didapuk untuk menjadi pembimbing. Tahir Tahang, yang juga salah satu juri Imagine Cup Indonesia, optimis dengan hasil karya mahasiswa Indonesia ini. Bahkan Tahir mengklaim, software buta huruf yang seperti buatan tim Aksara ini belum pernah ada yang buat sebelumnya.

Untuk masalah kemampuan bahasa Inggris yang sempat dikhawatirkan para juri, sepertinya bisa ditutupi tim Aksara. Pasalnya, mereka telah teruji ketika dilakukan seleksi di Indonesia, terlebih lagi salah satu anggota tim Aksara -- Desi Hadiati -- juga merupakan pengajar les bahasa Inggris.

Sehingga tak salah memang, jika para juri sangat yakin mahasiswa Indonesia ini dapat berprestasi menembus enam besar Imagine Cup dunia, dan mengharumkan nama bangsa di mata internasional. Kita doakan saja..

(ash/ash) Sumber : Detikinet
 

   
© 2017 .:: Pacific Internet (PInter) Indonesia ::.
Disclaimer | Best viewed 800 x 600 / 1024 x 768 | Site Map