globe  

   
 

Keajaiban Alam di Pulau Komodo
Selasa, 13 Januari 2009 | 20:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jenewa:

Pulau Komodo dan Segitiga Terumbu Karang yang terdapat di perairan Indonesia akan bersaing dengan lebih dari 200 tempat alami lain untuk memperebutkan tujuh posisi keajaiban alam yang baru. Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Yayasan New7Wonders tersebut, 261 nominasi dari 222 negara itu mencakup sejumlah puncak gunung terkenal, danau, serta atraksi alam lain seperti Great Barrier Reef di Australia dan Air Terjun Niagara di Kanada/Amerika Serikat.

Taman Nasional Pulau Komodo diusulkan sebagai situs keajaiban dunia dan menjadi tempat tinggal komodo, kadal terbesar di dunia yang sering dianggap sebagai naga. Terpilihnya Segitiga Terumbu Karang sebagai salah satu nominasi juga mengharumkan nama Indonesia, meskipun bentang laut di negeri ini mencakup perairan sejumlah negara lain seperti Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Kedua tempat itu memang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan panitia penyelenggara, bahwa lokasi yang diusulkan haruslah situs alam, monumen, atau lanskap alami. "Keajaiban alam itu harus berupa tempat alami atau monumen alam yang tidak diciptakan atau direkayasa oleh campur tangan manusia demi alasan estetika," kata pihak yayasan itu dalam situs Internetnya. "Fenomena alam atau fisik seperti cahaya utara, arus teluk, atau bintang jatuh tidak masuk kualifikasi."

Persyaratan tersebut membuat Aurora Borealis atau fenomena cahaya utara yang semula menjadi satu dari tujuh keajaiban alam versi sebelumnya, tercoret dari kemungkinan masuk ke dalam daftar bergengsi itu. Dalam tujuh keajaiban alam yang lama, ada situs seperti Grand Canyon di Amerika, gunung berapi Paricutin di Meksiko, Pelabuhan Rio de Janeiro di Brasil, Air terjun Victoria di Zambia/Zimbabwe, Puncak Everest di Cina/India, dan Great Barrier Reef di Australia.

Diperkirakan, lebih dari satu miliar orang dari seluruh dunia akan memberikan suaranya lewat Internet di www.new7wonders.com untuk memilih 77 semifinalis sampai 7 Juli 2009. Dewan pakar yang diketuai oleh Prof. Frederico Mayor, mantan Direktur Jenderal UNESCO, akan meninjau 77 semifinalis itu dan memilih 21 finalis yang akan diumumkan pada 21 Juli 2009.

Voting akan kembali dibuka untuk menentukan tujuh dari 21 finalis yang berhak menjadi tujuh keajaiban dunia yang baru. Berbeda dengan pemungutan suara pada tahap sebelumnya yang harus dilakukan lewat Internet, dalam voting terakhir nanti para pendukung bisa menyampaikan suaranya lewat internet, telepon, dan SMS. Registrasi lewat Internet dilakukan untuk mencegah orang memberikan suaranya dua kali.

Semua orang diperbolehkan memberikan suaranya melalui pemungutan suara sampai 2011. "Kami mengundang semua orang dari seluruh dunia untuk memperlihatkan apresiasi mereka secara aktif bagi keajaiban alam di sekeliling kita dengan bersama-sama merayakan tempat paling luang biasa di planet ini," tutur Tia Viering, juru bicara kampanye New7Wonders.

Yayasan nonprofit yang bermarkas di Swiss itu telah mengumpulkan 441 nominasi yang diusulkan oleh orang-orang dari seluruh dunia lewat Internet sejak proses seleksi dibuka pada 2007. Yayasan itu memilih atraksi alam dengan jumlah suara terbanyak dari setiap negara.

Secara keseluruhan, ada 261 usulan yang lolos seleksi. Lokasi yang terletak di antara kedua negara (bahkan lebih), seperti Puncak Everest yang ada di antara India dan Cina, atau sungai dan hutan Amazon yang mencakup beberapa negara--mulai dari Bolivia, Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana Prancis, Guyana, Peru, Suriname sampai Venezuela--dikecualikan dari persyaratan satu lokasi satu negara.

Kegiatan ini diharapkan dapat mengulang kesuksesan pemilihan tujuh keajaiban dunia pada 2007 lalu. Sekitar 100 juta orang memberikan suaranya dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban bangunan buatan manusia tersebut. Para pemenang kompetisi yang juga digelar oleh New7Wonders itu adalah Piramid Giza (Mesir), Colosseum (Italia), Tembok Raksasa Cina, Taj Mahal (India), Petra (Yordania), Patung Kristus Penebus (Brasil), Machu Picchu (Peru), dan Piramid Chichen Itza (Meksiko).

"Antusiasme kampanye ini membawa budaya keluar dari sudut berdebu dan kembali ke halaman depan media massa, layar televisi, atau komputer di berbagai tempat, menyeberangi seluruh garis ekonomi dan sosial," kata Viering. "Semua orang, mulai dari anak sekolah sampai pengusaha, bisa berpartisipasi."

Pemilihan tempat yang dianggap sebagai keajaiban dunia ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap kekayaan alam di negaranya. Badan budaya Perserikatan Bangsa Bangsa, UNESCO, juga terus memperpanjang daftar situs warisan dunia yang kini mencapai 878 lokasi.

Kampanye New7Wonders yang dipimpin oleh petualang Swiss Bernard Weber ini bertujuan mempromosikan keanekaragaman budaya dengan cara mendukung, melestarikan, dan memperbaiki monumen serta situs alam lainnya. Dana yang diperoleh dari sumbangan dan pajak hak penyiaran digunakan untuk membiayai proses renovasi itu.

TJANDRA DEWI | NEW7WONDERS | AP

Sumber: www.tempointeraktif.com (Selasa, 13 Januari 2009)
 

   
© 2017 .:: Pacific Internet (PInter) Indonesia ::.
Disclaimer | Best viewed 800 x 600 / 1024 x 768 | Site Map