globe  

   
 

Jababeka ingin bangun akses WiMax
JAKARTA: PT Jababeka Tbk menaruh minat menyediakan fasilitas infrastruktur teknologi WiMax di samping serat optik yang sudah ada seiring rencana pengembang untuk menjadikan kawasan itu sebagai Cyber Valley. Setyono Djuandi Darmono, Direktur Utama PT Jababeka Tbk, menuturkan pihaknya tengah menjajaki kemungkinan menyiapkan kawasan Cyber Valley atau Cyber City dengan luas lahan 3.000 hektare.

"Kami tengah menyiapkan master plan untuk? menjadikan Jababeka sebagai suatu proyek percontohan yang tidak kalah dengan Singapura, New York atau Tokyo," ujarnya kemarin.

Menurut Darmono, rencana tersebut sudah dibahas bersama Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi belum lama ini. "Pak Cahyana mendukung kami dan mengusulkan menjadi proyek percontohan," katanya.

Rencana itu mulai diwujudkan Jababeka dengan menunjuk konsultan atau kontraktor yang memiliki pengalaman di bidang teknologi informasi, yaitu Datakom yang juga pernah menjadi konsultan PT Telkom Tbk.

"Dalam tahap awal, kami melakukan survei lapangan untuk mengetahui berapa biaya dan keuntungannya. Mereka mengajukan proposal dan jika ini visible maka mereka bisa? kami ajak menjadi mitra," ujarnya.

Menurut Darmono, Ditjen Aplikasi Telematika melihat potensi Jababeka sebagai? lokasi yang strategis dan perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai di antaranya melalui penyediaan serat optik dan juga WiMax.

Darmono menilai ketersediaan infrastruktur dan keamanan maka memperbesar minat industri masuk ke Indonesia dan dari Jababeka konsep yang sama bisa diperluas ke daerah-daerah lainnya.

Saat ini, survei fisik di lapangan ditargetkan selesai dalam satu bulan untuk mengumpulkan informasi yang diolah dari kompilasi data primer dan sekunder.

"Kami harapkan akhir tahun survei akan selesai agar bisa menyusun rencana investasinya."

Konsep Cyber Valley

Ramon Bangun, Direktur Telematika Depperin, mengatakan saat ini Indonesia belum memiliki kawasan berkonsep Cyber Valley kecuali kawasan inkubator untuk mendorong perusahaan baru di bidang TI, yaitu Regional IT Centre of Excellence (RICE).

"Pihak mana pun yang akan membangun Cyber Valley tentu positif karena jika berkumpul di satu kawasan tentu ada sharing infrasruktur dan akan lebih murah," ujarnya kepada Bisnis tadi malam.

Menurut Ramon, kawasan khusus seperti yang akan diwujudkan Jababeka patut dibantu dan mendapatkan perlakuan khusus.

Dia berpendapat kawasan Jababeka merupakan kawasan strategis termasuk yang berada di koridor Jakarta-Bandung. "Konsep itu tepat karena pasarnya, yaitu industri ada. Biaya menarik infrastruktur menjadi tidak mahal."

Depperin tengah menyusun konsep Techno Park untuk TI dan menyusun peraturan perundangan pemberian insentif untuk pengembangan konsep itu. Instansi itu juga tengah membuka peluang kerja sama pembukaan balai litbang atau pusat desain termasuk pusat riset dan pengembangan.?

Kawasan Jababeka yang saat ini dihuni 1.350 industri itu masih memiliki ketersediaan ruang di lahan seluas 1.000 hektar dari total 3.000 hektare yang ada sebagai tempat bagi industri berteknologi tinggi dengan perkiraan tersedia bagi 1.500 industri.

Saat ini kebutuhan serat optik telah memenuhi kebutuhan 110 km dari total kebutuhan 300 km Jababeka. Belanja modal penggelaran serat optik memakan biaya US$50.000 per km di antaranya digelar bersama Indosat dan Icon+ (anak usaha PT PLN).? ( This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

Sumber: www.bisnis.com (Jumat, 18 Juli 2008)
 

   
© 2017 .:: Pacific Internet (PInter) Indonesia ::.
Disclaimer | Best viewed 800 x 600 / 1024 x 768 | Site Map